5 Kesalahan Filmmaker Pemula Yang Perlu Kamu Hindari

Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan, begitu juga dengan para filmmaker. Membuat kesalahan adalah proses untuk menjadi lebih baik. Para filmmaker jago juga tidak langsung membuat blockbuster begitu mengenal tentang pembuatan film.

Jika kamu seorang pemula, maka tidak perlu khawatir karena kamu bukan satu-satunya orang yang melakukan kesalahan. Sama seperti seorang bayi yang baru lahir dan jatuh ketika belajar berjalan, pastikan juga kamu bangkit dari kegagalan. Hal terpenting di sini adalah mengidentifikasi kesalahanmu agar kamu mendapat solusi yang tepat. Berikut ini adalah 5 kesalahan filmmaker pemula yang paling sering dilakukan, yuk tengok:

 

Cerita yang lemah

Film adalah karya seni yang paling komplit. Ia melibatkan musik, fotografi, arsitektur, fashion, bahkan unsur karya lukis. Namun jika sebuah film gagal, tudingan pasti diarahkan pada cerita.

“Ceritanya nggak jelas”, “Bosen banget nontonnya” adalah beberapa contoh keluhan penonton yang tidak puas.

Filmmaker pemula biasanya mengabaikan riset dalam cerita sehingga yang terjadi adalah generalisasi karakter dan plot hole di mana-mana. Riset memang membutuhkan waktu lama. Kasusnya, waktu dalam menggodok cerita ini dipangkas agar waktu produksi bisa dipercepat. Apalagi dengan hasrat menggebu-gebu para filmmaker pemula yang ingin agar filmnya segera jadi.

Saran kami, jika memang dikejar waktu, maka garaplah ceritamu dua kali lebih serius. Kemudian, jujurlah pada diri sendiri. Dengan menulis cerita yang jauh dari duniamu, ceritamu bakal kehilangan orientasi dan lagi-lagi jatuh pada generalisasi.

 

Naskah rasa novel

Dari pada membaca naskah, para filmmaker pemula tentu lebih sering membaca novel. Hal ini dapat dimaklumi, karena naskah memang tidak beredar umum di toko buku dan bukan sebuah bacaan hiburan. Karena itu, perlu digarisbawahi bahwa naskah adalah sebuah karya tulis yang sama sekali berbeda dengan novel.

Kata kunci pembuatan naskah adalah ‘visual’. Penulisan naskah harus berpegang pada prinsip bahwa setiap definisi, gerakan aktor dan lainnya dapat diterjemahkan langsung secara visual. Penulis naskah pemula sering kali menggambarkan adegan secara abstrak, misalnya ‘suasana romantis’. Suasana romantis bukanlah sesuatu yang visual, perlu ditambahkan detail misalnya bunga mawar bertebaran di lantai atau lilin-lilin berwarna krem menyala di meja makan.

Ingat bahwa tujuan utama naskah adalah pegangan bagi seluruh kru dan aktor sehingga harus jelas.

 

Sound yang buruk

Sound adalah saudara yang sering sekali dianaktirikan. Padahal, definisi sederhana film adalah karya seni audio visual, namun filmmaker pemula selalu menomorsatukan visual dan melupakan audio.

Setelah sibuk merancang komposisi shot lalu menentukan kamera dan lampu yang akan dipakai, biasanya filmmaker pemula akan menyiapkan recorder dan boom atau shotgun ala kadarnya untuk merekam suara. Selain itu, suara yang direkam adalah dialog di tempat tanpa memperhatikan ambiens.

Sound memiliki banyak proses dan elemen. Ada proses perekaman ambiens, perekaman live, dan foley. Sound terdiri dari ambiens, diegetic sound, non-diegetic sound dan juga musik scoring. Penting untuk merancang sound karena sound kebutuhan cerita berbeda dengan sound di lokasi syuting.

 

Alat dahulu, konsep kemudian

Dengan pesatnya perkembangan teknologi, mulai bermunculan juga kamera dengan spesifikasi canggih. Teknologi ini adalah berita bagus bagi dunia perfilman. Sayangnya, banyak filmmaker pemula yang mengutamakan kecanggihan alat yang dipakai dari pada konsep film itu sendiri. Perlu diingat bahwa teknologi canggih dibuat untuk mampu mewujudkan konsep sebuah film.

 

Salah Memilih Pemain

Akting adalah sebuah kesenian yang memerlukan keterampilan dan imajinasi. Dalam memilih aktor, tentu banyak aspek yang perlu diperhatikan berhubungan dengan karakter. Aspek-aspek tersebut adalah fisiologis, kemampuan akting, bahkan bayaran dan kecocokan jadwal.

Filmmaker pemula mengesampingkan satu aspek demi memenuhi aspek lainnya. Misalnya, demi memenuhi kecocokan fitur fisik, kemampuan akting dikesampingkan. Atau ketika tidak mampu menemukan pemain dengan etnis tertentu, casting director memaksakan pemain dengan etnis berbeda dan mengandalkan makeup. Salah memilih mengurangi kepercayaan penonton pada cerita yang disajikan.

Apakah kamu juga melakukan salah satu kesalahan di atas? Bagaimana cara kamu mengatasinya? Berikan komentarmu di kolom bawah ini.

Comments