8 Asosiasi Pekerja Film Yang Perlu Kamu Ketahui

Bicara soal pekerja film di Indonesia, mungkin kita harus bicara juga tentang asosiasi-asosiasi yang menaungi para pekerja film ini. Karena, selain buat menjaga kualitas kerja dan profesionalitas, asosiasi-asosiasi ini juga dibentuk untuk melindungi hak-hak mereka. Nah, penting banget, kan? Tapi apa kita udah tahu asosiasi pekerja film apa aja yang ada di Indonesia?

Apa saja sih asosiasi pekerja film yang ada di industri film Indonesia?

1. Indonesian Film Directors Club (IDFC)

Pertama kali berdiri pada 7 Oktober 2013, IDFC memberikan kesempatan bagi para sutradara Indonesia untuk meningkatkan kapasitas dan komunikasi. Posisi ketua IDFC sendiri kini dijabat oleh Ifa Isfansyah, yang namanya melejit setelah menyutradai film panjang pertamanya, Garuda di Dadaku (2009).

2. Rumah Aktor Indonesia (RAI)

Diketuai oleh Lukman Sardi, RAI dibentuk pada tahun 2013 untuk mewadahi para aktor profesional Indonesia. Gak tanggung-tanggung, mereka yang boleh bergabung dalam asosiasi ini hanya aktor yang telah membintangi sedikitnya 5 film! Konon hal ini juga dimaksudkan buat memperbaiki infrastruktur perfilman Indonesia. Bener juga ya, kalo kualitas aktor kita terjaga, film-film yang muncul di layar Indonesia pun pasti nantinya juga lebih berkualitas!

3. Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR)

Bertambahnya jumlah film dan penonton di Indonesia ternyata gak sebanding sama jumlah penulis skenario, loh! Fakta ini dibeberkan oleh Salman Aristo, Ketua Asosiasi Penulis Indonesia untuk Layar Lebar (PILAR). Di awal tahun ini, Salman Aristo menyebut, penulis skenario yang aktif dan tercatat di PILAR hanya 80 orang. Padahal, PILAR sendiri dibentuk sejak lima tahun silam. Wah, sementara dengan tren film Indonesia yang terus meningkat dari segi jumlah maupun kualitasnya, kalian tertarik gak sih jadi penulis skenario?

Apa saja sih asosiasi pekerja film yang ada di industri film Indonesia?

4. Indonesian Film Editors (INAFEd)

Kini diketuai oleh Cesa David Luckmansyah, INAFEd menjadi wadah diskusi di antara anggotanya sendiri mengenai editing film dan perfilman. Mirip seperti RAI, INAFEd juga menerapkan seleksi yang ketat untuk para calon anggotanya: baru bisa bergabung jika punya minimal 10 portfolio film dalam setahun!

5. Indonesian Motion Picture and Audio Association (IMPAct)

Asosiasi yang berdiri sejak 23 Agustus 2013 ini mewadahi para sound recordist, penata suara, dan penata musik film Indonesia.. Kini diketuai oleh Tya Subiakto, IMPAct menaungi lebih dari 50 orang anggota. Selain berperan untuk menetapkan standar dan profesionalisme kerja, IMPAct juga menjadi ruang diskusi bagi para anggotanya. Mereka juga tak menutup kemungkinan untuk memberi edukasi soal audio pada masyarakat luas, loh!

6. Asosiasi Casting Indonesia (ACI)

Berdiri sejak Agustus 2013, seperti yang tertulis di laman resmi mereka, Asosiasi Casting Indonesia merupakan wadah bagi para seniman di bidang casting atau pencarian aktor/pemain di dalam sebuah produksi, baik itu film, TV, maupun iklan. Mereka juga mendukung, merekomendasikan, dan mempromosikan peran Casting Director secara umum di dalam industri hiburan.

7. Asosiasi Produser Film Indonesia (APROFI)

Asosiasi ini lahir dari kebutuhan dan aspirasi para produser Indonesia untuk ikut memberikan kontribusi pada pengembangan industri film Indonesia dalam berbagai aspek. Menariknya, ga cuma para produser dari rumah-rumah produksi aja yang bisa gabung bersama asosiasi ini, tapi produser independen pun punya kesempatan yang sama!

8. Sinematografer Indonesia (SI)

Biasa disebut juga Indonesia Cinematographer Society, organisasi profesi ini didirikan di Jakarta pada tahun 2014. Dengan tujuan memajukan seni dan ilmu sinematografi, SI berperan juga dalam memberi wadah bagi para sinematografer untuk bertukar ide, mendiskusikan teknik dan mempromosikan film sebagai bentuk seni. Masih aktif hingga kini, SI pun rutin mengirim delegasi di beragam ajang internasional, seperti International Cinematographer Summit.

Comments