Kenapa Kami Suka Membuat Film (Dan Sebaiknya Kamu Juga!)

Beberapa filmmaker mengalami ini. Terakhir kali syuting, beberapa orang pasti bersumpah tidak akan pernah syuting lagi. Tekanan, ribetnya, capeknya, dramanya. Selalu ada celetukan, “Ini yang terakhir!”. Kemudian begitu pos-produksi selesai, semua orang duduk melihat film ditayangkan untuk pertama kalinya. Ketika melihat nama bergulir di kredit, ada perasaan puas, rindu, serta emosi lain yang bercampur aduk dan membuat filmmaker lagi-lagi ingin membuat film.

Ada beberapa hal yang membuat kami jatuh cinta membuat film. Film menyentuh perasaan dan membuka wawasan pada hal baru. Film dapat membawa kami ke ranah-ranah yang tak tersentuh oleh pikiran sebelumnya.

Pertama-tama, kami ingin bercerita. Kita semua hidup memiliki pengalaman, perasaan dan visi yang berbeda-beda. Dan sesekali ada saja kejadian menggelitik, atau menakutkan, atau menegangkan yang kita alami. Sebagai manusia, wajar saja jika kita merasa ingin membagikan cerita-cerita ini. Pernahkan kamu merasakannya? Sebuah dorongan kuat yang terus mengganggumu agar membagikan satu cerita tersebut?

Kita selalu ingin orang tahu apa yang ada di benak kita. Film adalah medium penyampai cerita sekaligus sebagai sebuah ‘kolom komentar’ akan opini-opini kita. Jika banyak orang mencintai film kami dan setuju akan cerita yang kami sampaikan, kami semakin bersemangat untuk membuat film. Jika banyak orang yang tidak setuju, film bisa menjadi ajang evaluasi dan membuka jendela tantangan baru.

Inilah yang kami cintai dari film, tidak ada kalah atau menang. Tidak ada cerita yang salah ataupun benar.

Film adalah pembelajaran hidup. Proses membuat film adalah sebuah momen perenungan yang panjang. Dalam membuat film, kami menimbang-nimbang konsep yang sesuai dan tahap ini menguji insting serta pandangan kami selama ini.

Apalagi, film adalah hasil kerja tim. Kami berusaha menyesuaikan diri untuk menemukan sela yang tepat bersama tim kami. Pada akhirnya, kami dapat saling merefleksi diri satu sama lain. Dan bukan hanya karakter dalam cerita, tapi juga para kru di balik layar akan menemukan pembelajaran yang baru.

Kami selalu ingin tahu. Film adalah bisnis bercerita yang sangat besar. Tampaknya seolah para pembuat film selalu memberi jawaban dengan cerita-cerita yang disajikan. Padahal kenyataannya adalah sebaliknya: kami selalu memiliki pertanyaan, tapi tidak dengan jawabannya.

Bukan berarti membuat film menjadi salah satu upaya untuk mendapat jawaban, melainkan eksplorasi filosofis pertanyaan-pertanyaan tersebut. Kami ingin mengajak penonton dalam petualangan kami dan melihat reaksi mereka, selalu mendebarkan.

Kami ingin film yang kami buat ikut menggugah penonton dan tetap relevan bahkan sampai 100 tahun kemudian.

Perjalanan membuat film. Semakin jauh kamu berjalan, semakin banyak yang kamu lihat, dengar dan rasa. Inilah terjadi dalam pembuatan film, sebuah perjalanan. Perjalanan ini dimulai dari tahap ide, lalu

pre-produksi, jungkir balik mencari lokasi yang sesuai sampai koordinasi kru dan aktor. Syuting adalah titik tengah perjalanan kami. Ada rasa frustasi dan kejutan-kejutan yang ditemukan di lokasi. Pada tahap produksi, kami menemukan kesulitan sendiri dengan proses editing hingga music scoring.

Klimaksnya adalah saat ekshibisi. Ketika hasil pemikiran bersama dinikmati oleh para penonton adalah sebuah pengalaman yang luar biasa dan kami ingin mengulangi lagi setiap bagian dari perjalanan tersebut.

Daftar ini bergulir terus, kami bisa menyebutkan banyak alasan kenapa kami suka membuat film. Apakah kamu juga ingin bercerita, selalu ingin tahu dan menikmati proses syuting? Jika iya, maka besar kemungkinannya film adalah mediummu!

Comments