Langit Masih Gemuruh: Film Sunyi Bersuara Lantang

Artikel ini bukan artikel orisinil blog kami, melainkan artikel yang ditulis oleh Putri Khairina dan diterbitkan di halaman Slate_ID (Qubicle) dengan judul “Cinetalk: Film Sunyi Jason Iskandar yang Bersuara Lantang”. Klik disini untuk mengunjungi laman artikel tersebut.

Artikel ini merupakan hasil wawancara dengan Jason Iskandar, sutradara film Langit Masih Gemuruh setelah pemutaran film tersebut di Qubeland 2016.

===

Saat di Qubeland 2016, Slate mengadakan screening film pendek Langit Masih Gemuruh yang dilanjutkan dengan sesi tanya jawab bersama sutradara dan penulis film tersebut, Jason Iskandar.

Film Langit Masih Gemuruh ini bukanlah film terbaru yang diproduksi oleh Jason Iskandar. Bahkan, film ini masih merupakan film independen yang Jason produksi sebagai tugas kuliah. Tapi, bakat Jason di bidang perfilman memang sudah terlihat jelas saat itu.

Langit Masih Gemuruh bercerita tentang seorang ibu dan anak perempuannya yang berada di Jakarta dan mengalami masa kerusuhan di tahun 1998. Film ini menyajikan aura dan feel yang kelam terhadap masa itu, serta tidak ada dialog di dalamnya. Jason ingin mengemukakan apa yang dirasakan ketika itu, ketimbang apa yang sebenarnya terlihat.

Berikut adalah wawancara bersama Jason Iskandar mengenai karyanya tersebut.

Mengapa diberi judul Langit Masih Gemuruh?

Film ini sebenarnya dibuat untuk skripsi saya. Saya ingin mendeskripsikan dengan satu kata untuk kejadian tahun ’98. Akhirnya saya menemukan, yaitu kata ‘gemuruh.’ Saya merasa saat itu seperti mimpi, mereka sadar bahwa peristiwa itu terjadi di depan mata mereka tapi mereka tidak bisa berbuat banyak. ‘Gemuruh’ itu istilahnya seperti mendengar suara gemuruh, jadi kita di situ tahu ada suara gemuruh, tapi kita tidak tahu apa yang terjadi dari suara itu. Saya pikir judul Langit Masih Gemuruh adalah yang tepat karena semenjak tahun ’98 hingga sekarang, saya tidak merasa ada banyak perubahan. Kita masih jalan di tempat yang masih sama.

Mengapa film ini begitu sunyi untuk sebuah topik yang besar?

Menurut saya, generasi saya ketika itu tidak bisa bersuara apa-apa. Ketika ada kejadian itu, apa, sih, yang bisa kita lakukan? Kita hanya bisa mengingat kehebohan di mana kita tiba-tiba sibuk dengan telepon, banyaknya asap di mana-mana, tiba-tiba saya dibawa keluar komplek rumah tanpa saya tahu ada di mana. Begitu pula dengan teman-teman saya yang merasakan hal itu. Kita hanya bisa mendengarkan adanya gemuruh.

Pemutaran Langit Masih Gemuruh karya Jason Iskandar

Kenapa di film hanya menceritakan seorang ibu dan anak?

Sebenarnya untuk memper-simple cerita aja, sih. Soalnya kalau ada ayah juga tidak akan membantu banyak ke cerita. Selain itu, cerita ini terinspirasi dari cerita teman saya yang memang wanita, juga ini bisa ngasih pressure ke ceritanya.

Jason sendiri sebagai orang yang beretnis Tionghoa, apakah memang topik di film ini sulit untuk diutarakan?

Untuk generasi millennial dan generasi Y, ini bukan hal yang sulit untuk dibicarakan. Saya hanya merasakan Orde Baru selama 10 tahun, dan lebih merasakan era demokrasi Indonesia. Mungkin beda dengan generasi atas. Seperti saya sendiri membicarakan hal ini dengan orang tua saya, bahwa hal seperti ini untuk apa dibicarakan, kita baiknya dagang saja, cari duit, mati, beres. Menurut saya ini adalah kemewahan bagi saya sebagai generasi Y.

Film ini juga merupakan bagian dari skripsi, bukan tugas akhir. Saya berasal dari Sosiologi UGM, dan saat itu saya satu-satunya yang beretnis Tionghoa selama bertahun-tahun dalam sejarahnya, dosen-dosen saya menyarankan untuk saya membuat sesuatu yang menyangkut dengan isu dari etnisitas saya sendiri.

Apakah Jason akan mengeksplor isu tentang etnisitas ini di masa yang akan datang?

Pastinya. Ada satu proyek film panjang yang sedang saya kembangkan dan sudah berjalan setahun. Film ini tentang satu keluarga kecil, ketika menghadapi Imlek tahun 2003 yang di saat itu ditentukan sebagai hari libur nasional untuk pertama kalinya. Imlek tahun 2003 itu berkesan banget buat saya karena bertepatan dengan ulang tahun saya. Itu pertama kali saya bisa melihat barongsai yang dirayain di mal. Saya juga tidak harus bolos sekolah lagi untuk Imlek. Film saya akan berkisar di situ. Menurut saya isu ini menjadi penting. Saya ingin me-treat film ini dengan lebih pop. Saya ingin membuat film yang tidak malu-malu untuk menceritakan isu ini, tidak seperti Langit Masih Gemuruh yang menurut saya film ini masih malu-malu untuk bercerita. Saya ingin orang-orang lebih aware dengan isu Chinese Community.

Film ini sangat relatable untuk orang-orang yang mengalami Reformasi ’98. Apa yang dapat disampaikan dari film ini untuk para penikmat yang tidak mengalami masa itu?

Sebenarnya saya justru merasa senang kalau film ini nggak ditonton oleh teman-teman saya yang merasakan tahun ’98. Tapi kalau film ini bisa ditonton oleh orang-orang lain yang nggak ngalamin ’98 secara langsung, seenggaknya saya bisa memberikan sebuah potret ke mereka bahwa yang kita rasakan waktu itu seperti ini.

Comments