6 Sutradara Indonesia Yang Memulai Karir Lewat Film Pendek

Pernahkah kamu berpikir untuk membuat film panjang pertamamu? Atau kamu berharap filmmu bisa dapat diputar di festival bergengsi mancanegara seperti Marlina si Pembunuh dalam Empat Babak atau Sekala Niskala? Atau  bahkan setidaknya kamu dapat membuat film panjang untuk dapat kamu abadikan saat sudah tua nanti, pernah?  Banyak pepatah menyebut “banyak jalan menuju roma” mungkin itu juga merupakan kalimat yang tepat, jika kamu mengingkan hal-hal seperti yang disebutkan diatas!

Membuat film panjang—mungkin bukanlah hal yang mudah, kamu perlu memiliki anggaran yang besar, kamu perlu mempunyai teman-teman yang satu visi dengan kamu—belum lagi kamu harus berembuk dengan pihak bioskop yang tidak mudah karena harus memikirkan apakah filmmu ada yang ingin menontonya atau tidak, eitss tapi jangan khawatir! Kita akan mencoba terus menyemangatimu jika kamu masih selalu kuat akan mimpi dan cita-cita itu.

Pada artikel kali ini kami akan membahas sutradara-sutradara Indonesia yang memulai karirnya lewat film pendek. Siapa saja mereka? Mari simak 6 sutradara Indonesia yang memulai karier lewat film pendek:

Ifa Isfansyah

Salah satu sineas tanah air yang juga merupakan seorang sutradara, memulai kariernya juga dari film pendek loh, Ifa sapaan akrabnya yang sejak tahun 2001 memutuskan untuk mendirikan rumah produksi bernama fourcolours film bersama rekannya Eddie Cahyono, dan Ifa kemudian memutuskan untuk mulai membuat film-film pendek hingga panjang seperti Mayar (2002) yang merupakan film pendek pertama Ifa yang berhasil membuatnya mulai dikenal oleh dunia, lalu beberapa waktu kemudian terus bermunculanlah karya-karya Ifa seperti Air Mata Surga (2003) Harap Tenang Ada Ujian (2006)  dan hingga kemudian memulai debut film panjang pertamanya yaitu Garuda di Dadaku (2009) dan menuai box office.

Edwin 

Siapa yang tidak kenal dengan sutradara ini? Atau mungkin kamu hanya menonton karyanya yang mulai merambah ke bioskop seperti Posesif? Wah sayang sekali untuk tidak mengenal sosok Edwin, Edwin merupakan seorang sutradara film-film eksperimental yang juga memulai kariernya lewat film pendek dan bahkan telah dikenal terlebih dahulu lewat film-film pendeknya. Karya film pendek pertamanya yaitu A Very Slow Breakfast (2002) lalu setelahnya, Dajang Soembi, Perempoean Jang Dikawini Andjing (2004)   merupakan film pendek yang diputar diberbagai ajang festival internasional dan masuk ke dalam nominasi festival film Indonesia 2004. Hingga bahkan karya selanjutnya dari Edwin yaitu Kara, Anak Sebatang Pohon  (2005) merupakan film pendek Indonesia pertama yang berhasil menembus ajang Festival Film Cannes 2005 dalam Sesi Directors Fortnight dan mulai bermunculan karya-karya film pendek dari Edwin, hingga ia memutuskan untuk memulai membuat film panjang pertamanya yaitu Babi Buta yang Ingin Terbang (2008)

Yosep Anggi Noen

Kalian tahu soal film Istirahatlah Kata-Kata? Film yang menggambarkan mengenai kehidupan pengejaran seorang Widji Thukul. Ya! Sutradara dari film itu ialah Yosep Anggi Noen, Seorang yang juga memulai karirnya lewat film-film pendek ini juga sama halnya dengan beberapa sutradara lain. Ia sudah terkenal terlebih dahulu lewat film-film pendeknya. Seperti pada film Hujan Tak Lagi Datang (2007)  yang berhasil diputar di International Film Festival Rotterdam, Belanda. Jadi sekarang, apakah kamu sudah mulai tertarik ingin membuat film-film panjang diatas? Masih belum? Kami coba berikan beberapa orang lagi yang membuat kamu menjadi lebih tertarik!

Ucu Agustin

Berawal dari jurnalisme, Ucu Agustin yang merupakan seorang sutradara film dokoumenter ini juga memulai membuat film-film pendek dokumenter terlebih dahulu juga loh,. Seperti pada tahun 2005, Ucu membuat sebuah film dokumenter pendek berjudul Death in Jakarta. Sebuah film pendek yang berhasil didanai oleh JIFFEST(Jakarta International Film Festival) karena berhasil menang sebagai lomba penulisan skenario. Hingga akhirnya dia memutuskan untuk membuat film panjang pertamanya berjudul Pertaruhan yang masuk dalam antologi film panjang Pertaruhan bersama beberapa kawan ini juga menuai berbagai penghargaan, salah satunya di putar di sesi panorama Festival Film International Berlin pada tahun 2009 dan menjadi film Indonesia pertama yang di putar di panorama. hingga film documenter panjang yang ia menjadi hanya seorang sutradara yaitu Farewell My School (2013)

Lucky Kuswandi

Apakah kalian mengenal film Selamat Pagi, Malam? Atau Galih dan Ratna? Ya! Itu adalah beberapa karya film yang dibuat oleh seorang Lucky Kuswandi, beberapa penghargaan yang didapat Lucky bukan hanya sebatas pada film panjangnya loh, bahkan Lucky juga terlebih dahulu membuat film pendek juga! Seperti pada film pendek pertamanya berjudul Still (2006) dilanjutkan dengan A Letter Of Unprotected Memories (2008) itu saja mampu mendapat Official Selection-Busan International Film Festival 2008.  Hingga karya film pendek yang bahkan dikenal dunia seperti halnya Edwin, yaitu pada karya yang berjudul The Fox Exploits The Tigers Might (2015) yang masuk sebagai Competition Semaine de la Critique, Cannes 2015.

Ismail Basbeth

Sutradara Indonesia satu ini mulai membuat film pendek sejak tahun 2008. Sebelum membuat film panjang perdananya yang berjudul Another Trip to the Moon (2015), Ismail Basbeth sudah lebih dulu dikenal sebagai pembuat film pendek. Karyanya sudah malang melintang di berbagai festival film mancanegara, seperti Busan International Film Festival. Ismail juga merupakan salah satu jebolan Asian Film Academy di Busan. Film panjang keduanya, Mencari Hilal (2015) membawanya mendapatkan nominasi Sutradara Terbaik di Festival Film Indonesia 2015.

Jadi, apakah kamu masih takut untuk membuat film panjang pertamamu? Jika saat ini kamu masih ragu dan takut untuk membuatnya, kamu bisa memulai dengan membuat film pendek seperti halnya beberapa sutradara yang sudah kami beritahu tadi. Kamu punya masukan atau tips untuk kita? Tulis di kolom komentar ya!

Comments