Dan Kembali Bermimpi

International Title: A Trip To Malilo | Short Film – Thriller | 12 minutes | Color | 2.35:1

 

Sinopsis: Satu hari di tahun 2030, dalam pelariannya keluar dari Negara Islam Indonesia, seorang perempuan yang tengah mengandung terjebak dengan kekasihnya yang kasar, serta seorang pastor yang mereka culik untuk menikahkan mereka.

 

Dan Kembali Bermimpi (A Trip To Malilo) adalah film pendek yang merupakan bagian dari omnibus Hukla in Motion. Project Hukla In Motion sendiri digagas oleh Paul Agusta, sutradara dan putra mendiang Leon Agusta. Lewat project Hukla in Motion, Paul mengajak beberapa sutradara dan seniman visual untuk menginterpretasikan karya puisi ayahnya menjadi sebuah karya audio visual.

 

Jason Iskandar, yang merupakan sutradara Studio Antelope, kebagian menginterpretasikan sebuah puisi bertajuk Dan Kembali Bermimpi yang ditulis pada tahun 1980. Menurut Jason, kesan pertama yang ia dapatkan setelah membaca puisi itu adalah rayuan gombal seseorang untuk kekasihnya, akan tetapi ketika membaca puisi itu kesekian kalinya, Jason merasa puisi ini seperti tipuan seseorang yang dibungkus dengan kata-kata manis nan manipulatif.

 

Menurut Jason, kata-kata manis nan manipulatif ini tidaklah asing bagi kita. Buaian-buaian ini sebetulnya kerap kita dengar dalam hidup kita sehari-hari, dari teman, pacar, perusahaan pengembang, bahkan sampai negara. Buaian seringkali membungkus mimpi. Mimpi dijual lagi dalam buaian. Lingkaran setan ini membuat kita tak bisa membedakan lagi mana yang mimpi, mana yang ego.

 

 

Synopsis: One day in 2030, on her escape from the Islamic State of Indonesia, a pregnant woman was trapped with her abusive lover, and a ppastor whom they abducted to marry them.

 

Dan Kembali Bermimpi (A Trip To Malilo) is a short film which is part of the Omnibus Hukla in Motion. Project Hukla In Motion itself was initiated by Paul Agusta, director and the son of late Leon Agusta. Through the Hukla in Motion, Paul invited several directors and visual artists to interpret his father’s poetry into an audio-visual work.

 

Jason Iskandar, who is the director of Studio Antelope, took part in interpreting a poem titled Dan Kembali Bermimpi written in 1980. According to Jason, the first impression he got after reading the poem was just simply a seduction for his lover, but when reading the poem the umpteenth time, Jason felt those words were like a trick wrapped in sweet, manipulative words.

 

According to Jason, these sweet, manipulative words are not strange to us. We often hear these words in our daily lives, from friends, lover, development companies, even from the state. The words often wraps dreams. Dreams are sold in words. This vicious circle makes us unable to distinguish which one is dream, which one is ego.

Year

2018

 

Writer & Director

Jason Iskandar

 

Inspired by the poem by

Leon Agusta

 

Producer

Florence Giovani

 

Cast

Agnes Naomi

Gusty Pratama

Natalius Chendana

 

Line Producer

Livia Agatha

 

Unit Production Manager

Joshua Dwi Sutedjo

Wyona Pramono

 

Director of Photography

Bagoes Tresna Adji

 

Art Director

Andromedha Pradana

 

Costume by

Ray Hafidz M

 

Makeup by

Christy Pramarsita

 

Editor

Reynaldi Christanto

 

Music Composer

Ivan Gojaya

 

Sound Designer

Dira Nararyya

 

Equipment Supported by

Timeless Rentals

MSP Film Equipments

 

Post-production supported by

The Organism

 

Music & Sound supported by

Roemah Iponk

GDNP Studio

Comments