‘First Breath After Coma’ Terpilih Mengikuti Golden Horse Film Project Promotion

Di Studio Antelope, kami selalu percaya bahwa cerita memiliki kekuatan untuk menyentuh hati dan membangkitkan kenangan yang mendalam. Proyek terbaru kami, First Breath After Coma, adalah salah satu cerita yang sangat dekat dengan hati kami. Kami merasa sangat terhormat ketika proyek ini terpilih untuk mengikuti Golden Horse Film Project Promotion (FPP) 2024 di Taipei.

Cerita di Balik ‘First Breath After Coma’

First Breath After Coma merupakan sebuah drama keluarga yang berlatar belakang transisi politik Indonesia pada akhir 1990-an, masa yang ditandai oleh berbagai perubahan sosial dan politik, terutama bagi komunitas Tionghoa-Indonesia. Film ini mengisahkan tentang tiga kakak beradik—George, Rachel, dan Lily—yang harus menghadapi kenyataan pahit ketika ayah mereka jatuh koma. Di tengah situasi ini, masing-masing karakter berjuang dengan masalah pribadi mereka, yang mencerminkan ketegangan yang dialami masyarakat pada masa itu.

George, yang berusia 39 tahun, sedang menghadapi masalah dalam pernikahannya dan karier politiknya yang penuh dengan ketidakpastian. Sementara itu, Rachel harus mengelola bisnis kapuk milik keluarga yang sedang terancam bangkrut, dan Lily, yang paling muda, dihadapkan pada dilema antara tanggung jawab keluarga dan keinginannya untuk pindah ke Amerika Serikat. Semua ini terjadi di tengah situasi gonjang-ganjing pasca jatuhnya Orde Baru di tahun 1998, yang menjadi simbol perubahan dan harapan baru.

Visi Sutradara dan Pengaruh Pribadi

Sutradara Jason Iskandar menggambarkan First Breath After Coma sebagai sebuah proyek yang sangat pribadi, terinspirasi dari pengalaman keluarganya sendiri. Sebagai seorang Tionghoa-Indonesia, Jason merasa perlu untuk mengangkat cerita ini, terutama karena masa-masa penuh tantangan tersebut sering kali terlupakan oleh generasi muda. Film ini tidak hanya berfungsi sebagai pengingat sejarah, tetapi juga sebagai penghormatan kepada ketangguhan komunitas Tionghoa-Indonesia dalam menghadapi diskriminasi dan penindasan.

Dalam pernyataannya, Jason menjelaskan bahwa kondisi koma sang ayah dalam cerita ini merupakan metafora dari perjuangan panjang yang dialami komunitas Tionghoa-Indonesia di bawah tekanan sistemik. Jason berharap dapat membawa penonton kembali ke masa tersebut dan merenungkan kembali sejarah etnis melalui lensa pengalaman keluarga.

Pengembangan dan Kolaborasi Internasional

Sebelum terpilih di Golden Horse FPP 2024, First Breath After Coma telah melewati berbagai tahapan pengembangan di beberapa lab film ternama, termasuk Ties That Bind, Produire au Sud Taipei, Full Circle Lab Filipina, dan SGIFF Southeast Asian Film Lab. Pengalaman ini tidak hanya memperkaya visi kreatif dari proyek ini, tetapi juga membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak di industri film internasional.

Produser dari Studio Antelope melihat pentingnya kolaborasi internasional untuk proyek ini, mengingat resonansi cerita yang dapat melampaui batas-batas geografis. Proyek ini telah mendapatkan dukungan dari beberapa lembaga, termasuk hibah dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Namun, mereka masih mencari kesempatan untuk bekerja sama dengan koproduser, distributor, dan kolaborator lain dari Asia dan Eropa guna memperluas jangkauan dan dampak film ini.

Melangkah Menuju Masa Depan

Golden Horse Film Project Promotion 2024 menjadi tonggak penting dalam perjalanan First Breath After Coma. Melalui platform ini, kami berharap dapat memperkenalkan film ini ke audiens global dan membangun jaringan yang lebih luas untuk mendukung kesuksesan proyek ini. Kami berharap First Breath After Coma dapat segera diwujudkan dan dipertemukan dengan penonton segera!

No Comments

Post A Comment