Klarifikasi Jason Iskandar Soal Studio Antelope

Nama Studio Antelope pertama kali muncul tahun 2011. Saya masih ingat betul, pada 1 Juni 2011, saya dan Florence Giovani mengadakan rapat berdua di McCafe, Kelapa Gading, dan menuliskan beberapa pilihan nama. Tak perlu waktu lama untuk kami memutuskan memilih nama Studio Antelope.

Oh ya, omong-omong, buat yang belum kenal, saya adalah Jason Iskandar, pendiri sekaligus CEO dan Creative Director dari Studio Antelope. Di artikel ini, saya ingin cerita sedikit tentang Studio Antelope serta hal-hal yang sering disalahpahami tentang Studio Antelope.

Sejak 2014, Studio Antelope telah memilih untuk fokus pada pembuatan konten audio-visual. Meskipun sudah mulai banyak yang mendengar atau mengetahui Studio Antelope, nampaknya masih ada beberapa hal yang sering disalahpahami. Nah oleh karena itu, melalui artikel ini, saya ingin meluruskan beberapa hal. Yuk simak dibawah ini!

Kesalahpahaman 1: Studio Antelope Hanya Sekedar PH

Menurut saya, istilah PH (Production House) kurang tepat disematkan pada Studio Antelope. Production House adalah kelompok atau perusahaan yang aktivitasnya memproduksi film atau iklan. Betul, salah satu aktivitas Studio Antelope adalah memproduksi, tetapi kami juga punya aktivitas lain yang tak kalah penting, seperti mengembangkan ide kreatif, merancang strategi penempatan media, sampai mendistribusikan konten ke media-media yang tepat.

Studio Antelope bukan sekedar eksekutor. Walaupun kami bekerjasama dengan brand tertentu, kami selalu menempatkan diri sebagai kolaborator. Kolaborasi memang salah satu nilai utama yang Studio Antelope percaya. Salah satu misi utama Studio Antelope adalah menciptakan budaya kerja yang sehat, teratur, dan kolaboratif di industri film. Dimulai dari Studio Antelope, lalu ke rekan-rekan yang bekerjasama dengan kami, dan harapannya dapat tersebar ke seluruh komunitas kreatif di Indonesia. Jadi, produksi hanyalah salah satu aktivitas kami.

Baca Juga:  A Journey Back To Jakarta (Making of Balik Jakarta)

Kesalahpahaman 2: Studio Antelope Cuma Akun Instagram

Sejak komunitas online kami mulai berkembang, banyak yang mengenal Studio Antelope dari Instagram. Oleh karena itu, tidak heran banyak yang menganggap Studio Antelope hanyalah akun Instagram yang gemar berbagi infografis dan tips menarik seputar filmmaking. Well, kayaknya saya harus cerita sedikit tentang awal mula Instagram kami.

Dulu akun Instagram Studio Antelope (@studioantelope) hanya kami pakai untuk mempromosikan karya-karya kami. Oleh karena itu, kami jarang ngepost. Lalu kami pikir sayang juga kalau akun ini tidak digunakan. Lalu munculah ide untuk membuat infografis. Semua materi yang dijadikan infografis lahir dari kegelisahan saya yang dulu kesulitan mencari materi untuk belajar film. Saya memang tidak sekolah film, jadi saya belajar film dari Internet. Atas dasar itulah, muncul dorongan untuk berbagi ilmu seputar filmmaking. Dan ternyata responnya sangat positif.

Instagram hanya salah satu alat kami untuk berkomunikasi. Misi kami adalah #BikinDanBerbagi. Kami tidak hanya mau sekedar bikin film atau konten saja, tetapi juga ingin berbagi inspirasi kepada teman-teman seperjuangan.

Kesalahpahaman 3: Studio Antelope Hanya Bikin Iklan

Ada dua bagian di dalam Studio Antelope: Film & TV, lalu Commercial Services. Di bagian Commercial Services, kami berkolaborasi dengan brand untuk memproduksi konten yang tidak hanya berkualitas, tetapi juga mampu menyuarakan statement dari brand dengan jelas dan lantang. So yes, we do commercial services, but it’s not the only thing.

Kesalahpahaman 4: Studio Antelope Hanya Terima Peserta Magang Dari Kampus Bergengsi

Hmmm, saya sendiri tidak tahu apa yang dimaksud dengan kampus bergengsi. Betul kami selalu mencatat nama kampus di formulir pendaftaran program magang di Studio Antelope. Akan tetapi, hal ini kami lakukan semata untuk kebutuhan pencatatan saja. Ketika melakukan seleksi, kami fokus menilai portfolio pendaftar serta kemampuannya bekerjasama dengan tim pada sesi wawancara. Menurut kami dua poin ini yang terpenting.

Baca Juga:  Membungkus & Membawa Pulang Elegi Melodi - Catatan Harian Produksi Elegi Melodi

Kesalahpahaman 5: Studio Antelope Hanya Terima Filmmaker Dari Jurusan Film Saja

Saya tidak pernah belajar film secara formal. Meskipun sejak SMA sudah membuat film, tapi saya tidak mengambil sekolah film. Ada dua alasan: pertama, karena mahal; kedua, saya merasa lebih membutuhkan ilmu yang dapat memperkaya apa yang saya ceritakan, maka saya mengambil sosiologi.

Oleh karena itu, saya tidak pernah mempersoalkan dimana seseorang belajar. Saya percaya setiap orang punya caranya sendiri-sendiri untuk belajar, dan tidak bisa dipaksakan hanya dengan satu cara tertentu. Di Studio Antelope, kami terdiri dari berbagai latarbelakang pendidikan: ada saya yang dari sosiologi, ada Florence (Head Producer) dari Desain Komunikasi Visual, ada yang dari jurusan Biologi, ada yang dari komunikasi, dan tentu saja ada pula yang dari sekolah film. Semakin ragam, semakin kaya.

Kesalahpahaman 6: Studio Antelope adalah Perusahaan Asing

Wah yang terakhir ini saya baru tahu belakangan. Mungkin karena nama Studio Antelope terdengar ‘asing’ atau ‘tidak Indonesia’. Padahal ada cerita menarik ketika memutuskan nama Studio Antelope dulu. Kami sengaja memadukan padanan kata Studio Antelope dan bukan Antelope Studio agar terdengar lebih Indonesia, sebab di bahasa Indonesia keterangan tempat pasti diletakan sebelum nama. Misal, “Rumah Makan Sederhana” atau “Toserba Jaya Raya”.

Ternyata masih ada juga yang salah paham. Tapi tak apa, melalui artikel ini saya dapat menjamin bahwa sampai saat ini pemilik saham Studio Antelope (PT. Studio Antelope Indonesia) adalah WNI dan semua modal yang ada di dalam perusahaan ini adalah modal dari dalam negeri.

Media Sosial

Jason Iskandar

CEO / Creative Director
Mulai membuat film di usia 17 tahun. Mendirikan Studio Antelope, bersama produser Florence Giovani, pada tahun 2011. Saat ini menjabat sebagai CEO & Creative Director di Studio Antelope.
Jason Iskandar
Media Sosial
Baca Juga:  Luthfi Aulia: Lebih Gampang Ngeband Daripada Akting

Artikel Terkait:

No Comments

Tulis Komentar:

shares