5 Rekomendasi Film Pendek Tentang Tionghoa

Imlek semakin dekat! Momen yang tepat untuk mendoakan agar kalian semua dilimpahi kesuksesan. Momen yang tepat pula untuk memberikan rekomendasi film pendek tentang Tionghoa.

Menyambut Imlek, maka tema rekomendasi film kali ini berhubungan dengan etnis Tionghoa. Selain untuk merayakan Imlek, kami juga merasa penting untuk ngeshare film-film pendek ciamik ini di tengah situasi Indonesia beberapa bulan terakhir.

Film-film dibawah ini tidak hanya mampu menceritakan persoalan etnis Tionghoa di Indonesia, tetapi juga mampu menjadi menjadi bahan refleksi kita bersama sebagai masyarakat yang plural. Tenang, filmnya gak serius-serius semua kok. Kami membaginya dengan rata, ada film komedi, drama, romance, dan eksperimental. Lengkap! Berikut ini film-filmnya:

Cheng Cheng Po

Baru saja diunggah oleh sutradaranya, BW Purbanegara ke Youtube. Film ini bercerita tentang persahabatan berbeda latar belakang. Ketika seorang teman keturunan Tionghoa bernama Han tak mampu membayar SPP, kawan-kawannya mencari cara agar dapat membantunya. Film ini menggunakan cara yang jenaka untuk memaknai kembali Bhinneka Tunggal Ika. 

Trip to the Wound

Setiap luka punya cerita. Begitulah kurang lebih titik tolak film yang disutradarai oleh Edwin ini. Film ini bercerita tentang laki-laki yang bertemu dengan seorang perempuan di dalam bis. Mereka sama-sama menceritakan tentang luka mereka.

CINtA

Kisah cinta beda agama selalu menjadi topik yang menarik. Disutradarai oleh Steven Facius Winata, film ini bercerita tentang kisah cinta seorang lelaki Tionghoa (diperankan oleh Verdi Solaiman) dan seorang perempuan Muslim (diperankan Titi Rajo Bintang). Film ini mampu menceritakan persoalan cinta beda agama dengan menohok dan sendu. Film pendek ini pernah di putar di Clermont Ferrand International Short Film Festival.

Sugiharti Halim

Ini salah satu film pendek favorit kami sepanjang masa. Premisnya sederhana: apa arti sebuah nama? Bagi kelompok Tionghoa, nama bisa jadi persoalan serius. Seperti yang kita ketahui, sejak 1967 masyarakat Tionghoa tak boleh lagi menggunakan nama Tionghoa dan harus mengganti ke nama yang terdengar Indonesia. Di film yang disutradarai oleh Ariani Darmawan ini, seorang perempuan bernama Sugiharti Halim menceritakan keluh kesahnya atas namanya sendiri. Lucu sekaligus menohok.

Letter of Unprotected Memories

Film eksperimental karya Lucky Kuswandi ini memotret perayaan imlek di Indonesia. Imlek kini tak sama dengan Imlek di masa Orde Baru, ketika ekspresi budaya Tionghoa dilarang. Sejak 1999, Imlek diperbolehkan dirayakan dan menjadi hari libur bagi yang merayakan. Baru pada tahun 2003, Imlek diresmikan menjadi hari libur nasional. Lucky Kuswandi dengan jeli memotret perubahan-perubahan itu dalam sebuah video esay yang sangat puitik ini.

Omong-omong, kami juga pernah membuat film pendek bertema Tionghoa. Judulnya ‘Langit Masih Gemuruh’, mungkin sudah ada yang pernah nonton. Film pendek eksperimental ini bercerita tentang pengalaman seorang anak perempuanmenghadapi kerusuhan Mei 1998.

Kami belum bisa ngepost versi lengkapnya ke internet, jadi kami share dulu trailernya ya.

Comments