5 Kesalahan Yang Paling Sering Ditemukan di Film Mahasiswa

Dengan semakin banyaknya studi perfilman di Indonesia, film mahasiswa pun jadi semakin banyak dan beragam. Jika kamu adalah seorang mahasiswa film atau penggiat film sejati, paling tidak kamu pernah ke penayangan film mahasiswa. Film-film mahasiswa, terutama mahasiswa baru, bagaimanapun menawarkan sebuah gaya sendiri yang menarik. Jika cukup jeli, kamu mungkin akan memperhatikan ada beberapa kesalahan dalam hampir kebanyakan film mahasiswa. Tidak semua, tentunya ada film-film yang membuat berdecak kagum. Tapi setiap mahasiswa film pasti pernah mengalami atau melakukan 5 kesalahan di bawah ini untuk film mereka, paling tidak salah satunya. Yuk, cek dan bandingkan dengan pengalamanmu sendiri.

Mengandalkan Dialog

Kecuali kamu Richard Linklater, akan lebih baik jika sebuah film mahasiswa mencoba menggali kekuatan visual terlebih dahulu. Film mahasiswa memang seringkali malah mengandalkan dialog untuk menjelaskan sebuah adegan.

Intisari dari sebuah film adalah perpaduan visual dan audio sebagai alat komunikasi kepada penonton. Jangan samakan antara dialog dengan audio. Letakkan dialog yang proporsional dengan fokus filmmu.

Terlalu Banyak Pesan

Tahukah kamu bahwa film panjang dan film pendek memiliki struktur yang berbeda? Film panjang bukan sekedar film pendek yang dipanjangkan, begitu pula sebaliknya, film pendek bukan film panjang yang durasinya dikompres menjadi lebih cepat. Perlakuan keduanya berbeda. Film mahasiswa masih sering terjebak dengan ‘kemewahan’ yang ditawarkan film panjang, yakni durasi yang lebih lama. Akibatnya, banyak film pendek yang ingin membungkus terlalu banyak pesan menjadi satu dengan adanya subplot, pembukaan bertele-tele, karakter yang banyak tapi pesannya ke mana-mana. Film-film mahasiswa lebih banyak menonjolkan plot yang rumit daripada pesan yang jelas. No, cut it down!

Terlalu Personal dan Pengulangan Informasi

Tentunya salah satu tips yang diberikan oleh dosen kepada kalian yang baru masuk ke sekolah film adalah: Saat membuat film/cerita, ambillah cerita yang dekat denganmu. Bukan hanya saran, menurut kami tips ini sifatnya cukup mutlak.

Baca Juga:  5 Tips Memberi Saran Rekan Setim Produksi Film

Hanya saja, saran ini sering diterjemahkan mahasiswa dengan membuat film curahan perasaan dan emosi. Perlu diingat, perasaan dan emosi bersifat abstrak sehingga harus diolah ke dalam action. Akhirnya, banyak film yang adegannya tidak tersampaikan dengan baik karena hanya sang pembuat film yang memahami. Pengulangan informasi juga tidak membuat penonton semakin mengerti apa yang ingin disampaikan. Cukup buatlah satu shot atau satu dialog atau satu adegan yang jelas dan padat.

Klise

Terkadang, kesempatan dalam membuat film sebagai seorang mahasiswa film memang bisa menimbulkan semangat tersendiri. Dengan referensi film dan individu panutan yang beragam, seringkali para mahasiswa ingin menggunakan referensi visual, cerita, audio dan sebagainya dari film yang mereka kagumi. Hal ini tentu sah-sah saja, bahkan dilakukan juga, kok, oleh para pelaku industri film profesional. Lihat saja Quentin Tarantino dengan Kill Bill.

Sayangnya, kebanyakan film pemula gagal menyesuaikan referensi yang diambil dengan film itu sendiri sehingga justru menimbulkan kesan tidak nyambung, dipaksakan dan klise karena tidak diolah menjadi baru. Apalagi banyak referensi mahasiswa diambil dari film panjang, yang tentunya memiliki treatment berbeda dengan film pendek. Cara mengatasi hal ini adalah dengan memperbanyak referensi film pendek, perbanyak baca dan juga analisis yang lebih mendalam.

Pemilihan Pemain yang Asal

Dapat dimengerti bahwa akses mahasiswa pada aktor profesional mungkin terbatas sehingga pemilihan pemain pun dilakukan seadanya. Mahasiswa film hanya meletakkan ciri-ciri fisik dan profil sederhana untuk mencari aktor. Selain itu, mahasiswa juga cenderung mencari siapa pun sejauh aktingnya masuk dalam kategori ‘natural’. Tentu tidak ada salahnya mencomot teman atau orang yang gerak-geriknya alami untuk main dalam film, tapi ada banyak aspek lain yang perlu dipertimbangkan mahasiswa dalam memilih aktor.

Baca Juga:  Bikin Dokumenter Ala Yuda Kurniawan

Ingatlah bahwa aktor-aktor inilah yang akan memainkan karaktermu. Filmmu akan menceritakan kehidupan karakter ini. Kameramu akan mengikuti gerak-gerik aktor ini. Bisa dibilang, aktormu adalah pusat perhatian di dalam filmmu. Meskipun bukan satu-satunya elemen, pemilihan aktor menentukan bagus tidaknya film dengan sangat, sangat signifikan.

No Comments

Tulis Komentar:

shares