6 Potret Film Musik Makan 2019


Film Musik Makan 2019 adalah pelaksanaan keenam yang diselenggarakan oleh kawan-kawan Kolektif Film pada bulan Maret tiap tahunnya. Sabtu, 9 Maret 2019 menjadi tanggal pilihan Film Musik Makan 2019 mengadakan acaranya di GoetheHaus, Jakarta. Dimulai pukul 10 pagi hingga 10 malam, Film Musik Makan menawarkan program pemutaran yang disisipkan penampilan musik serta sajian makanan. Ini ada 6 potret Film Musik Makan 2019:

1. Membahas Eksistensi Film Pendek di Indonesia


Ketiga narasumber duduk di bibir panggung ditemani Alexander Matius “Mamat” sebagai moderator membuka obrolan dengan pertanyaan awal pertemuan mereka dengan film pendek dan mengalir pada topik ekosistem film pendek Indonesia. Meiske Taurisia, produser “Posesif” mengawali sepak terjangnya di dunia film sebagai penata busana yang beralih profesi. Dede, panggilan akrabnya, mengungkapkan keunikan film pendek adalah tidak bertele-tele selayaknya film panjang.

Dede menambahkan, “Udah ga ada tuh alasan mau bikin film tapi ga ada temen lah, apalah. Bikin aja udah!”

Ifa Isfansyah, salah satu pendiri Fourcolours Films, menjelaskan dalam memproduksi film pendek juga diperlukan visi distribusi film tersebut. Mengingat semakin banyak platform maupun festival yang bisa dijadikan ruang putar.

Ifa berseru, “Kru terbaik adalah teman sendiri. Kalau belum jadi teman, kenalan dan jadi teman aja dulu!”

Aditya Ahmad, sutradara “Kado”, Film Pendek Terbaik di Festival Film Venice 2018. Adit bercerita tentang usahanya di Makassar saat masih kuliah harus bergerilya memproduksi dan memutarkan film bermodal semangat dan nekat. Mamat menyimpulkan bahwa film pendek masih sangat penting hadir di industri film Indonesia. Film pendek juga relevan sebagai tolak ukur untuk melihat kualitas ragam film Indonesia. Eits, ternyata ada bonus lho sebelum diskusi dimulai dengan memutarkan “Kara, Anak Sebatang Pohon” karya Edwin!

Adit menjelaskan, “Cari teman atau kru yang percaya dengan (kemampuan) kita.”

2. Reuni dan Kenalan Orang Baru

Menjadi ajang tahunan, gak salah kalau Film Musik Makan selalu dinanti pembuat dan penikmat film buat reunian. Film Musik Makan kerap dihadiri dari berbagai penjuru kota, ada yang dari Yogyakarta, Solo, hingga Samarinda turut serta. Anggapan Film Musik Makan juga sebagai tempat reunian juga berlaku untuk kawan-kawan yang menetap di Jakarta. Berbagi kabar terbaru dan menawarkan kolaborasi untuk membuat proyek kerap dilakukan. Kesempatan untuk berjejaring semakin luas, karena dihadiri oleh banyak komunitas ataupun media. Sebut saja, teman-teman dari Universitas Multimedia Nusantara, Infoscreening, Jurnal Ruang, dan Organism. Jadi, yang belum temenan bisa jadi rekanan!

Baca Juga:  10 Film Pendek Karya Awal Sutradara Ternama Yang Bisa Kamu Tonton Online

3. Update Film Indonesia

Ada 4 pemutaran yang disediakan Film Musik Makan untuk penontonnya. Tiap pemutaran ditutup dengan diskusi bersama sutradara atau perwakilan masing-masing film.

a. Kompilasi Film Pendek
Diawali film yang baru saja berangkat ke Festival Film Clermont-Ferrand “Kembalilah Dengan Tenang”, sutradara Reza Fahriyansyah. Disusul film yang perdana diputar di Jakarta, “Dan Kembali Bermimpi” karya Jason Iskandar. Film Yosep Anggi Noen berjudul “Ballad of Bloods and Two White Buckets” berhasil membuat penonton batuk-batuk setelahnya. Kemudian, “Woo Woo” film garapan Ismail Basbeth dan ditutup oleh pemenang film pendek terbaik Festival Film Indonesia, “Kado” disutradarai Aditya Ahmad.

b. Asian Three Fold Mirror 2018: Journey
Film omnibus hasil proyek The Tokyo International Film Festival. Proyek ini saling bertukar pandang mengenai kultur, budaya, serta peluang untuk mengeksplor identitas negara-negara Asia. Nicholas Saputra menjadi aktor utama yang selalu muncul di ketiga film. “The Sea” menjadi film pembuka, garapan sutradara dari Tiongkok, yakni Degena Yun. Sutradara Jepang, Daishi Matsunaga menjadikan Vietnam sebagai latar pada film “Hekishu”. Edwin, sutradara asal Indonesia, menyutradarai Oka Antara dan Agni Pratistha dalam film “Variable No. 3”.

c. Kisah Dua Jendela (Day Sleepers)
Terinspirasi dari kisah kawannya, Paul Agusta memfilmkan cerita tentang dua orang asing, Andrea (Dinda Kanya Dewi) dan Leon (Khiva Iskak) harus bekerja di tengah malam. Naskah berjumlah 36 halaman dibuat Paul menjadi film berdurasi 92 menit. Kisah Dua Jendela atau Day Sleepers sebelumnya sempat diputar di Jogja-NETPAC Asian Film Festival tahun 2018.

d. Rising from Silence
Menutup malam di Film Musik Makan 2019, “Rising from Silence” karya Shalahuddin Siregar diputar. Film dokumenter pendek terbaik di Festival Film Indonesia 2018 ini mengisahkan sekelompok ibu-ibu yang berusaha mengutarakan perasaannya melalui nyanyian. Lagu-lagu ciptaannya merupakan hasil tulisan saat mereka masih di dalam penjara.

Baca Juga:  10 Artikel Blog Terpopuler Tahun 2017

4. Menyantap Sajian Nikmat

Makan adalah bagian dari judul kegiatan yang pertama kali diselanggarakan tahun 2013 ini. Sejak pagi hingga malam, makanan yang ditawarkan ada dari beberapa tenant. Tenant merupakan orang-orang yang terlibat dalam industri film juga lho. Misal, Nasi Pedes Cipete menyajikan menu nasi dengan pilihan lauk ayam suwir, paru, atau ikan dengan tambahan istimewa, kecombrang! Lola Amaria adalah pemilik usaha Nasi Pedes Cipete yang restorannya berada di Cipete. Ada lagi Roast Beef Iponxonic, punya Wahyu Tri Purnomo disamping profesinya sebagai sound mixer. Pelepas dahaga sekaligus penahan kantuk, ada Kopi Kata dari Joshua Dwi Sutedjo atau sering dipanggil ‘Bongeq’. Ia biasanya berperan sebagai line producer dalam produksi film.

5. Mendengar Lantunan Syahdu

Nah! Satu lagi untuk melengkapi kegiatan Film Musik Makan, yaitu musik! Paduan suara “Dialita” tidak hanya pelengkap namun juga menjadi penutup acara secara resmi. Dialita adalah akronim dari Di Atas Lima Puluh Tahun, paduan suara beranggotakan ibu-ibu yang menyuarakan perasaannya saat menjadi tahanan politik tahun 1965-1966. Semangat dan harapan Dialita inilah yang direkam dan dijadikan film oleh Shalahuddin Siregar dalam “Rising from Silence”. Lantunan lagu-lagu hasil ciptaan di dalam bui sudah dapat diperoleh melalui platform-platform media online. Lagu-lagu mereka dapat didengar oleh kaum muda merupakan tujuan utama agar sejarah politik Indonesia tidak dilupakan.

6. Film Musik Makan Hadir di Berbagai Kota

Setelah melaksanakan di Jakarta, Film Musik Makan mulai bergerilya menuju ruang pemutaran di lain kota. Satu minggu setelah penyelenggaraan pertamanya, Film Musik Makan beralih kota ke Padang, membuat Mini Film Musik Makan dengan memutarkan Kompilasi Film Pendek. Agenda lain yang menyusul adalah pemutaran di Ruang Jurnal tanggal 23 Maret 2019, lalu kota Sukabumi akan dilaksanakan di akhir bulan Maret. Kota “Pahlawan” Surabaya dijadwalkan pada awal bulan April 2019. Jadi, buat teman-teman di luar Jakarta, jangan khawatir! Kalian juga punya kesempatan untuk bikin dan nonton film-filmnya kok.

Baca Juga:  Mengenal Europe on Screen

Film Studio Antelope sudah dua tahun berturut-turut diputar di Film Musik Makan. 2018, “Elegi Melodi” menjadi salah satu suguhan program pemutarannya. Tahun ini, “Dan Kembali Bermimpi”. Kira-kira tahun depan bakalan ikutan lagi ga yaa?

Swasthi Mangundjaya

Community Manager
Kuliahnya di Surabaya menjadi awal pertemuannya dengan komunitas dan festival film. Setelah kuliahnya rampung, kembali pulang ke Jakarta dan saat ini menjabat sebagai Community Manager di Studio Antelope.
Swasthi Mangundjaya
No Comments

Tulis Komentar:

shares