7 Kesalahan Sinematografer Pemula Yang Paling Sering Ditemui

Menjadi sinematografer atau penata kamera merupakan keahlian khusus yang membutuhkan jam terbang. Sama seperti sutradara, sinematografer dituntut memberikan sentuhan kreatif dalam sebuah cerita. Penata kameralah yang akan membingkai gambar yang nantinya akan disaksikan oleh penonton. Selain itu, penata kamera juga dituntut mampu menyeimbangkan elemen kreatif dan teknis dalam sebuah pembuatan film. Oleh karena itu, tidaklah heran penata kamera tidak hanya membutuhkan pengetahuan teknsi semata, tetapi juga jam terbang yang cukup tinggi.

Sinematografer yang belum berpengalaman cenderung melakukan kesalahan-kesalahan mendasar. Yang kami maksud kesalahan di sini adalah beberapa basic rule yang terabaikan. Dalam beberapa kasus, melanggar aturan memang penting untuk dilakukan. Namun ketika itu dilakukan tanpa kesadaran, maka kesalahan ini akan menjadi backfire. Buat kalian para sinematografer muda, jangan khawatir, sebab kesalahan-kesalahan akan membuatmu belajar menjadi lebih baik lagi di kemudian hari.

Ini dia 7 kesalahan sinematografer pemula yang paling sering ditemui!

Pada artikel ini, kami coba merangkum 7 kesalahan sinematografer pemula yang paling sering ditemui. Harapan kami, kalian bisa membaca artikel ini dan mencermatinya supaya dapat kalian hindari ke depannya. Apa saja sih 7 kesalahan sinematografer pemula tersebut? Berikut ini rinciannya:

Tidak Menonton Film

Sebelum bicara lebih banyak soal teknis, ada satu hal yang perlu dilakukan buat kamu, para sinematografer muda, yaitu menonton film sebanyak-banyaknya! Jangan lupa, baik kamu sutradara, penulis, produser, penata artistik, maupun penata kamera, kalian adalah seorang pembuat film. Dan pembuat film yang baik haruslah menjadi penonton film yang baik. Oleh karena itu, tontonlah sebanyak mungkin film. Jadilah terbuka dengan aneka ragam pendekatan bercerita. Jadilah terbuka dengan berbagai jenis film. Dengan begitu, kamu akan menguasai lebih banyak ‘bahasa’ untuk kamu terapkan dalam sebuah film yang kamu buat. 

Lensa & Sensor Kotor

Mari kita masuk membicarakan hal teknis. Hal teknis paling mendasar yang perlu kamu perhatikan sebagai penata kamera adalah lensa dan sensor. Tidak jarang kami menonton film-film pendek karya mahasiswa, dan menemukan lensa kotor di sana-sini. Debu dan bercak akan menganggu gambar yang disajikan. Jadi sebelum kamu menekan tombol recordmu, pastikan dulu lensa dan sensormu bebas dari kotoran.

Ini dia 7 kesalahan sinematografer pemula yang paling sering ditemui!

Mengabaikan Head Room

Head room atau ruang kepala adalah ruang kosong yang disisakan di atas kepala. Memberikan ruang kosong di atas kepala akan membuat komposisi gambar menjadi lebih baik. Sinematografer pemula kerap mengabaikan hal ini. Kesalahan yang paling sering ditemukan adalah tidak memberikan head room ketika mengatur komposisi, tetapi tak jarang pula head room yang diberikan terlalu banyak. Jadi, perhatikanlah hal ini sebaik mungkin.

Fokus Meleset

Oke, harus kita akui mengatur fokus memang cukup tricky. Sinematografer profesional bahkan masih kerap melakukan kesalahan fokus. Akan tetapi yang membedakan profesional dengan amatir/pemula adalah profesional selalu memastikan fokus aman sebelum berpindah ke shot berikutnya. Memperhatikan fokus adalah tugasmu, jadi tontonlah playback dan perhatikan baik-baik gambarmu. Hindari pula pemakaian auto-focus karena hal ini akan menyulitkanmu memantau fokus.

Ini dia 7 kesalahan sinematografer pemula yang paling sering ditemui!

Tidak Mengukur Cahaya

Light meter adalah sahabat terbaik seorang sinematografer. Dengan light meter, kamu bisa mengukur cahaya dengan akurat. Terkadang monitor memberikan informasi yang meleset, oleh karena itu tugasmu sebagai penata kamera adalah melakukan pengukuran manual menggunakan light meter untuk memastikan eksposur berada dalam perhitungan yang tepat. Jika kamu belum menguasai perhitungan light meter, maka kami sangat menyarankan kamu untuk mempelajarinya.

Terpaku Pada Three Point Lighting

Three point lighting merupakan teknik pencahayaan paling dasar dan sering sekali digunakan. Teknik ini memang paling ‘aman’, karena persebaran cahaya di subjek, samping subjek, dan latar subjek pasti merata. Akan tetapi, terkadang pencahayaan yang terlalu merata akan membuat gambarmu flat. Gambar yang flat tidak cuma membuat gambarmu terlihat datar dan biasa saja, tetapi juga membuat penonton bingung karena tidak ada point of interest yang di highlight. Oleh karena itu, cobalah bereksperimen dengan three point lighting.

Melupakan Proyek Personal

Nah ini dia yang terakhir tapi tak kalah penting: proyek-proyek personal. Kecenderungan sinematografer muda yang sedang naik daun adalah hanya membatasi diri di proyek-proyek komersial yang berharga tinggi, padahal proyek personal sama pentingnya dengan komersial lho. Memang tidak dapat dipungkiri, proyek komersial membuat kamu bisa membayar semua tagihan-tagihanmu, akan tetapi jika kamu memang ingin menjadi sinematografer yang lebih baik lagi, jangan lupakan proyek-proyek personal non-komersial. Melalui proyek-proyek semacam inilah, kalian bisa beksperimen, mendobrak kemungkinan baru,  dan membuka pemikiran kalian sebagai penata kamera.