Kenalan Yuk Sama 7 Nominasi Film Pendek FFI 2018

Setelah diumumkan pertengahan November kemarin, banyak orang mulai penasaran dan cari tahu tentang ketujuh film pendek yang berhasil masuk nominasi Festival Film Indonesia tahun ini. Beberapa judul udah sering terdengar, tapi beberapa lainnya belum. Film pendek jagoanmu yang mana?

 

Melawan Arus (Eka Saputri)

Film pendek berdurasi 10 menit ini disutradarai oleh Eka Saputri, seorang pelajar SMK 1 Kebumen, Jawa Tengah. Berkisah tentang perjuangan petani Urut Sewu, Kebumen, film ini merupakan produksi dari Jaringan Kerja Film Banyumas dan pernah memperoleh penghargaan Film Fiksi Pelajar Terbaik pada Festival Film Purbalingga 2018. Peran sentral dalam film ini adalah tokoh Siti, seorang perempuan petani yang menganggap bahwa peristiwa penangkapan suaminya merupakan buah dari sengketa tanah antara petani dan tentara yang tak kunjung usai.

 

Joko (Suryo Wiyogo)

Bercerita tentang kehidupan Joko, remaja tanggung berusia 15 tahun yang bekerja sebagai kuli pengangkut barang di sebuah tempat perbelanjaan, secara garis besar film ini mengangkat isu ketidakadilan sosial dalam masyarakat, terutama yang dirasakan oleh mereka yang tak punya banyak pilihan karena relasi kuasa. Selain akan ditayangkan di JAFF 2018, Joko juga pernah ditayangkan di Singapore International Film Festival.

 

Siko (Manuel Alberto Maia)

Menceritakan tentang kehidupan sebuah keluarga pasca referendum 1999 di Timor Leste, film yang naskahnya ditulis sendiri oleh Manuel Alberto Maia berdasarkan pengalaman pribadinya sendiri ini menggunakan aktor dari kamp-kamp pengungsi asal Timor Leste, yang hingga saat ini masih tinggal di Indonesia. Diproduksi selama 3 bulan oleh Komunitas Film Kupang atas kerja sama dengan Kedutaan Besar Denmark di Indonesia, Siko berhasil meraih Hibah Cipta Perdamaian 2018 dari Yayasan Kelola.

 

Kado (Aditya Ahmad)

Membicarakan kebebasan seksual dan identitas gender di Indonesia tidaklah mudah, apalagi jika kita dianggap belum cukup umur. Tapi, dalam realita, pertanyaan-pertanyaan itu selalu muncul, dan Aditya Ahmad berhasil menyodorkannya dengan lugas pada para penonton. Tak heran jika kemudian Kado berhasil menyabet penghargaan Film Pendek Terbaik di Venezia International Film Festival.

 

Topo Pendem (Imam Syafi’i)

Pernah menyabet karya terbaik kategori Audience Award di gelaran UMN Animation and Film Festival 2018, Topo Pendem sendiri bercerita tentang ritual dalam budaya Jawa untuk mendapatkan kesaktian spiritual dengan cara memendam sebagian tubuh dalam tanah.

 

Har (Luhki Herwanayogi)

Film pendek ini menceritakan tentang penantian seorang anak terhadap kepulangan ibunya yang bekerja sebagai buruh migran di Hongkong. Pernah ditampilkan dalam Festival 100% Manusia, Har menjadi film pendek terbaru Luhki yang diproduseri oleh sineas kondang Nia Dinata.

 

Elegi Melodi (Jason Iskandar)

Kadang kita melupakan cita-cita sederhana karena waktu yang tergilas realita. Seperti Melodi, yang baru teringat lagi dengan cita-cita lamanya untuk menjadi penyanyi setelah divonis kanker dan diprediksi tak akan bertahan hidup terlalu lama. Kisah Melodi ini disajikan dengan unik dan menyentuh oleh Jason Iskandar, membuat penonton penasaran, berhasilkah Melodi menayangkan video klip menyanyinya di hari pemakaman?

Comments