6 Hal Klise Dalam Film Pendek Yang Sering Dijumpai

Film pendek sebaiknya mengejutkan. Saya pertama kali menonton film pendek pada 2006, ketika saya mendapatkan DVD Harap Tenang Ada Ujian (Ifa Isfansyah, 2006) sebagai bonus majalah film ternama. Film itu sukses membuka mata saya akan keindahan film pendek: singkat, lugas, namun membicarakan banyak hal. Begitulah indahnya film pendek.

Sejak itu saya semakin penasaran dengan film pendek. Saya ingat festival film pendek yang pertama kali saya sambangi adalah Festival Film Pendek Konfiden 2007. Di festival itu, saya menyaksikan keseruan aneka ragam bentuk dan tema film pendek. Sejak itu pula saya penasaran dengan film-film pendek luar negeri, yang juga banyak memukau saya. Untuk kamu yang sedang mencari ragam film pendek ber-genre komedi, mungkin list ini bisa membantu.

Entah sudah berapa banyak film pendek yang saya tonton. Dari film-film pendek tersebut saya dapat menyimpulkan: film pendek yang baik adalah yang penuh kejutan. Kejutan yang saya maksud bisa dari berbagai aspek, mulai dari ceritanya, gagasannya, sampai visualnya. Film-film pendek yang memukau selalu mampu menghindari hal-hal klise yang biasanya kita jumpai di film bioskop.

Nah, melalui artikel ini saya merangkum 6 hal klise dalam film pendek yang sering dijumpai. Harapannya adalah setiap kamu membuat film pendek, kamu dapat mempertimbangkan hal-hal berikut agar film pendek-mu tak kehilangan daya kejut. Berikut daftarnya:

Bangun Tidur

Salah satu adegan yang paling sering saya jumpai, dan entah kenapa terus menerus diulang adalah adegan alarm berbunyi dan bangun pagi sebagai pembuka film. Mungkin karena cara ini paling mudah dipakai untuk menjelaskan ‘kehidupan normal’ sang protagonis. Tentu saja bukan berarti ini salah, akan tetapi jika terus menerus diulang, tentu pembuka film pendek-mu tak akan mengejutkan penonton.

Baca Juga:  Belajar Ringkas Melalui Infografis! #AntelopeInfographic Juni-Juli 2019

Bokeh

Bokeh sering dipakai untuk hal klise film pendekAda teman saya yang berseloroh: jika dalam 5 menit pertama sudah ada shot bokeh tanpa alasan, maka ia akan berhenti menonton film tersebut. Memang benar, saya sering sekali menonton film dengan shot bokeh yang tak perlu. Bokeh memang sering digunakan untuk membangun suasana syahdu & romantis, tetapi jika terus dipakai tanpa alasan yang kuat, filmmu akan mudah ditebak.

Slow Pace

Pada periode awal sampai pertengahan 2010an, entah berapa film yang menggunakan pendekatan slow pace. Slow pace adalah istilah pengadeganan film yang sengaja dibuat lamban. Seringkali film tersebut hanya menggunakan satu shot, dengan pergerakan aktor yang lambat (minim pergerakan), dilengkapi dengan dialog yang amat minim. Jujur saja saya pernah ketagihan menggunakan metode ini, karena mudah dibuat. Akan tetapi belakangan saya merasa metode ini membuat saya jadi pemalas.

Simetris

Gambar yang simetris sudah seringkali digunakan di film pendek, terdengar klise?Saya sempat heran ketika menjadi juri festival film di salah satu kampus film ternama. Dari 6 film yang dikompetisikan, saya ingat 5 film menggunakan pendekatan kamera simetris. Pendekatan ini seringkali kita lihat di film karya Wes Anderson, yang membagi frame secara simetris, baik komposisinya maupun desain produksinya. Lalu memang salah meminjam ‘tanda-tangan’ Wes Anderson? Ya tidak sih, tapi tentu kamu ingin jadi dirimu sendiri kan.

Resolusi Tak Logis

Film dibuat agar penonton merasakan sesuatu. Sedih, gembira, marah, dan takut, adalah 4 rasa dasar yang bisa kamu tawarkan ke penonton. Nah sialnya pembuat film memposisikan hal ini sebagai tuntutan, yang pada akhirnya justru mendorong memilih jalan pintas. Jika sedih, buatlah karakter meninggal. Jika gembira, buatlah karakter jadian di akhir, dsb. Semua yang saya sebutkan sebetulnya sah-sah saja, asalkan didukung dengan alur logika & pergerakan motivasi karakter yang runtut dan jelas.

Baca Juga:  Contoh Call Sheet Film & Template Dokumen Film Lainnya

Rokok, Kopi, & Alkohol

Era 1990an sampai 2000an sering menggunakan elemen ini sebagai kosmetik visual, walaupun masih sering saya jumpai di beberapa film pendek belakangan ini. Tak ada yang salah menampilkannya, asalkan dalam konteks yang tepat. Menempatkannya dalam konteks yang klise, misalnya rokok di adegan interogasi mafia, akan membuat film pendek-mu terasa sedang ‘mengulangi pakem’. Ingat apa yang dilakukan Yosep Anggi Noen dalam adegan interogasi di film Istirahatlah Kata-Kata? Sang interogator tidak merokok, tapi makan lemper.

Media Sosial

Jason Iskandar

CEO / Creative Director
Mulai membuat film di usia 17 tahun. Mendirikan Studio Antelope, bersama produser Florence Giovani, pada tahun 2011. Saat ini menjabat sebagai CEO & Creative Director di Studio Antelope.
Jason Iskandar
Media Sosial
1 Comment
  • Fahdel Mahendra
    Posted at 02:17h, 10 September Reply

    Waahhh film pendek yang pertama kali saya tulis menggunakan pendekatan Slow Pace 😂 tapi mmg karena emosi yg ingin disampaikan adalah rasa sepi, jaadi dibuat hening dan lambat temponya 😗

Tulis Komentar:

shares