5 Film Tentang Anak-Anak yang Bikin Nangis Bombay

Film tentang anak-anak tidak selalu hanya ditujukan untuk bisa ditonton oleh anak-anak. Ada banyak film tentang anak-anak yang muatan ceritanya berat dan dewasa sehingga butuh bimbingan orang tua jika ingin menontonnya. Selain itu, film yang menceritakan tentang anak-anak tidak melulu mengisahkan keceriaan atau kegembiraan saja. Sebaliknya, film justru bisa membuat penonton dewasa menangis terisak-isak! Berikut ini adalah 5 film tentang anak-anak yang sedih dan bisa bikin nangis tersedu-sedu!

Coco

Dimulai dari film paling baru di antara deretan film lainnya. Coco diproduksi oleh Pixar Studio pada tahun 2017 lalu dan terinspirasi dari hari libur nasional di Meksiko, Día de Muertos, perayaan untuk mengenang arwah yang sudah meninggal. Pada hari itu, orang-orang di Meksiko akan berkumpul bersama keluarga, memajang foto-foto para mendiangnya dan pergi ke kuburan para leluhur untuk berdoa. Di hari itu, dipercaya juga para arwah akan datang ke dunia orang hidup untuk mengunjungi keluarga & sanak saudaranya.

Coco bercerita tentang seorang anak laki-laki, Miguel, yang ingin sekali bisa bernyanyi di panggung di alun-alun desanya saat perayaan Día de Muertos. Sayangnya minatnya menjadi seorang musisi selalu dihalang-halangi oleh keluarganya sendiri. Ia diminta untuk meneruskan profesi turun-temurun di keluarganya dengan menjadi seorang perajin sepatu. Karena penolakan dari keluarganya itu, Miguel terpaksa harus mencuri gitar di sebuah makam tempat seorang musisi legendaris di kotanya. Tak disangka, karena kenakalannya tersebut, Miguel jadi terdampar ke dunia orang mati dan terjebak di sana. Untuk keluar dari situ Miguel harus berusaha meminta berkat dari arwah keluarganya sebelum Día de Muertos berakhir dan menutup pintu gerbang antara kedua dunia itu.

Di dunia orang mati itu, Miguel belajar banyak bahwa para arwah perlu untuk terus diingat oleh orang-orang yang masih hidup di dunia. Mereka benar-benar akan ‘mati’ untuk kedua kalinya ketika sudah tidak ada lagi orang hidup yang mengingatnya dan mendoakannya.

Selain karena cerita & tampilan visualnya yang mengesankan, Coco juga dilengkapi dengan daftar lagu-lagu yang bagus dan easy listening. Adegan di-ending benar-benar jadi penutup manis untuk film tentang anak-anak ini dan memeras air mata penontonnya karena perasaan sedih nan terharu.

Baca Juga:  5 Film Pendek Ngapak Dari Banyumas Raya

Boy In The Striped Pyjamas

Film tentang persahabatan dua anak ini bakal mengganggu perasaanmu sepanjang film. Berkisah tentang Bruno, seorang anak laki-laki yang tinggal di Berlin, Nazi Jerman pada masa Perang Dunia II. Ayah Bruno, Ralf, adalah seorang petinggi tentang Nazi Jerman yang baru saja naik pangkat dan harus pindah ke sebuah desa kecil di pinggiran untuk jadi pimpinan di kamp konsentrasi kala itu.

Bruno tidak menyukai rumah barunya dan merasa kesepian. Beberapa kali ia menyelinap keluar rumah dan memasuki hutan kecil hingga ia bertemu dengan Shmuel. Seorang anak laki-laki seumurannya yang selalu memakai ‘piama’ garis-garis. Walaupun terpisah oleh pagar kawat berduri Shmuel & Bruno tetap bisa menjalin hubungan baik. Mereka berbagi cerita, bermain lempar bola, kadang-kadang juga Bruno menyelundupkan makanan dari rumahnya untuk Shmuel.

Sebagai anak kecil yang polos, mereka berdua sama sekali tidak menyadari perbedaan mereka. Bruno tidak memahami kalau Kamp Konsentrasi Nazi yang dipimpin ayahnya itu adalah tempat pembunuhan massal terhadap orang-orang Yahudi, seperti Shmuel dan orang-orang berpiama garis-garis yang lain.

Film ini penuh cerita mengenai sejarah dan politik Jerman pada masa kepemimpinan Hitler. Di balik itu, ada satu pesan penting yang dibawa oleh film ini. Diskriminasi itu diajarkan, karena pada dasarnya manusia terlahir untuk saling mencintai.

Grave of The Fireflies

Film animasi tentang anak-anak dari Studio Ghibli ini bakal bikin kamu berurai air mata karena turut sedih merasakan rasa kehilangan para tokohnya. Diproduksi tahun 1988, film animasi ini berdasar dari novel semi-otobiografi tahun 1967 dengan judul yang sama. Grave of The Fireflies bercerita tentang kisah perjuangan menyintas kakak beradik, Seita & Setsuko, di bulan-bulan terakhir ketika Perang Dunia II hampir usai.

Silenced

Film drama keluaran TVN ini juga salah satu film tentang anak-anak yang bukan untuk ditonton sama anak-anak. Ceritanya tentang seorang guru muda baru, Kang Inho, baru saja mendapat pekerjaan di sebuah boarding school, Benevolence Academy. Benevolence Academy adalah sebuah sekolah tunarungu yang telah berdiri sejak 1961.

Baca Juga:  Liputan Macroad Linikini Tentang Studio Antelope

Baru beberapa hari Kang Inho bekerja, ia menemukan bahwa siswa-siswi di sana banyak yang menjadi korban pelecehan dan kekerasan seksual oleh guru dan kepala sekolahnya sendiri. Perlawanan dan pengakuan para korban tidak dipandang serius oleh publik sekitar mengingat kepala sekolah, yang adalah pelaku kekerasan seksual ini, merupakan pemimpin gereja Kristen yang memiliki banyak pengikut. Publik tidak percaya kalau pendetanya itu melakukan seperti yang dituduhkan.

Seramnya, Silenced diambil berdasarkan kisah nyata yang juga terjadi di sebuah sekolah bernama Gwangju Inhwa School, di Korea Selatan, namun kasus tersebut berakhir tidak baik. Berdasarkan investigasi di tahun 2005, seperti dilansir dalam UOS Times, telah terjadi pelecehan seksual dari guru ke muridnya sejak tahun 2000-2007.

Kasus yang sempat tertunda ini kemudian mulai menjadi perhatian publik lagi ketika film Silenced berhasil merajai layar bioskop di Korea Selatan pada tahun 2011. Publik menekan kepolisian setempat untuk membuka lagi berkas mengenai Gwangju Inhwa School untuk segera menyelesaikan kasusnya. Dua bulan setelah film ini rilis, akhirnya pemerintah memutuskan untuk menutup sekolah tersebut.

Satu hal yang bikin film ini makin menarik adalah bagaimana ternyata kedok agama itu dipakai untuk menutupi tindakan busuk seseorang, nggak cuma di Indonesia aja.

Children of Heaven

Children of Heaven adalah film asal Iran yang diproduksi pada tahun 1997. Film ini juga masuk dalam nominasi film berbahasa asing terbaik di Academy Award tahun 1998.

Film dimulai dengan Ali yang hendak mengambil sepatu adiknya, Zahra yang baru saja selesai diperbaiki karena rusak. Masalah dimulai ketika sepatu adiknya ternyata diambil oleh seorang laki-laki tua karena dikira sampah. Ali dengan sangat menyesal menyatakan rasa bersalahnya pada adiknya dan memintanya untuk tidak memberitahukan pada orang tua mereka. Ali takut mengakui bahwa sepatu adiknya hilang karena ia takut dimarahi oleh ayahnya. Keluarga Ali & Zahra adalah keluarga miskin yang berkekurangan, uang sewa rumah sudah tidak terbayar berbulan-bulan.

Tanpa sepatu, Ali & Zahra terancam tidak bisa masuk kelas untuk sekolah. Mereka berdua akhirnya bersepakat untuk bergantian memakai sepatu. Zahra memakai di pagi hari dan segera akan bertemu dengan Ali supaya kakaknya bisa segera masuk kelas di siang hari. Awalnya rencana mereka berjalan mulus, tapi lama-kelamaan Ali jadi sering terlambat sekolah.

Baca Juga:  Membahas Original Content di Laboratorium Olah Cerita & Kisah (LOCK)

Suatu hari, Ali melihat ada sebuah pengumuman lomba lari yang hadiah ketiganya adalah sepasang sepatu. Demi mendapatkannya Ali ikut lomba tersebut dan berencana untuk menjadi juara ketiga. ‘Sialnya’ Ali berlari terlalu cepat dan menjadi juara satu, sehingga ia tidak jadi mendapatkan hadiah sepatu seperti yang diharapkannya.

Bahagia itu memang sederhana, untuk Ali & Zahra, sepasang sepatu baru sudah cukup untuk membuat kebahagian besar buat mereka berdua.

Suryo Hapsoro

Head of Business Development
Lulusan Sosiologi yang pernah bekerja di sebuah digital media agency dan OTT multinasional. Punya minat tinggi dalam Social Media Strategy dan Content Marketing. Saat ini bertanggung jawab sebagai Head of Business Development di Studio Antelope.
Suryo Hapsoro
No Comments

Tulis Komentar:

× How can I help you?