12 Babak Formula Cerita Hero’s Journey

Suka dengan cerita pahlawan atau superhero? Belum lama ini, film Gundala karya Joko Anwar ramai diperbincangkan oleh para penikmat film Indonesia. Apakah kamu sudah menonton filmnya? Apa pendapatmu? Nah, dalam dunia prosa naratif, formula cerita petualangan sang pahlawan atau yang biasa disebut dengan Hero’s Journey merupakan formula yang kompleks, namun menantang & menarik untuk diikuti. Setiap tokoh pahlawan memiliki dinamika kehidupannya dan cerita kepahlawanan yang baik akan disajikan dengan alur yang logis.

Cerita kepahlawan sudah dikembangkan sejak zaman mitologi Yunani hingga berkembang menjadi heroes folklore atau ‘wiracarita’ masyarakat Eropa dari abad ke abad. Pada masa modern ini, cerita kepahlawanan terus diinovasikan dengan unsur-unsur kecanggihan teknologi, roman percintaan, serta drama internal tokoh yang mengikat.

Sekilas informasi, Indonesia pun memiliki khazanah cerita kepahlawanan yang khas dan otentik, serta dilengkapi unsur-unsur pembangun kekuatan pahlawan yang tidak ditemukan di tempat lain. Sebut saja tokoh-tokoh legenda tradisional, wayang, dan tokoh-tokoh mitos yang hidup di berbagai sub-budaya Indonesia.

Mengenal Hero's Journey, apakah itu?

Nah… sebenarnya, cerita pahlawan tidak terbatas pada superhero, tokoh sakti, atau jenderal militer terhebat. Penyematan unsur pahlawan pada sesosok tokoh ‘biasa’ pun wajar terjadi. Sosok ayah, ibu, dan orang biasa pun dapat menjadi pahlawan melalui visi penulis ceritanya. Tokoh pahlawan dapat diciptakan sekreatif mungkin dengan menggabungkan dua atau tiga atribut sekaligus, seperti seorang petugas kebersihan kota yang mampu menyelamatkan masyarakat kota dari ancaman musuh.

Lalu, bagaimana Hero’s Journey bekerja? Dalam artikel ini, kami akan menyajikan ulasan formula Hero’s Journey menurut Joseph Campbell (1949). Simak babak demi babak formula cerita Hero’s Journey.

Babak 1: Status Quo

Babak ini menjelaskan semesta cerita secara garis besar tanpa menunjukkan detail-detail terkecil dalam cerita. Pada babak Status Quo, pahlawan diceritakan segi fisik, kemampuan, dan dari segi personalnya di rumah atau markasnya yang nyaman. Biasanya, pengembangan cerita pahlawan pada babak ini juga menampilkan awal mula pembentukan karakter pahlawan sehingga memunculkan alasan logis atas aksi-reaksinya di adegan-adegan berikutnya. Pembentukan karakter yang nyata ditampilkan biasanya dari lingkungan keluarga si pahlawan. Salah satu anggota keluarga akan menanamkan ‘prinsip dasar kepahlawanan’, sehingga si tokoh pahlawan akan memahaminya sebagai energi awal aksi kepahlawanannya. Apakah kamu ingat pesan Ben Parker kepada Peter Parker, “From a great power comes great responsibility” yang menjadikan Peter Parker termotivasi menjadi Spiderman? Itulah inti dari babak Status Quo.

Baca Juga:  10 Sekolah Film di Luar Negeri

Babak 2: Call to Adventure

Babak kedua adalah Call to Adventure atau bisa disebut sebagai The Important Message. Pada babak ini, tokoh pahlawan menerima sebuah ‘undangan’ atau pesan khusus yang menantang si pahlawan untuk mengeluarkan aksinya. Undangan bisa dihadirkan dari tokoh villain atau bahkan dari pihak internal keluarga atau sahabat si pahlawan itu sendiri.

Babak 3: The Assistance/Meeting the Mentor

Pada babak ini, tokoh pahlawan menerima bantuan atau pengajaran dari tokoh-tokoh pendukung yang dekat dengan kehidupannya. Tokoh tersebut bisa berupa guru, anggota keluarga, sahabat, tetangga atau mungkin sekutunya untuk beraksi. Meskipun demikian, The Assistance tidak menutup kemungkinan bahwa bantuan datang dari musuh atau tokoh yang dirancang untuk mengecoh tokoh pahlawan.

Mari mengenal formula penulisan hero's journey!

Babak 4: Departure

Pada babak ini, tokoh pahlawan memulai tugasnya untuk ‘berangkat’ dan menjawab tantangan. Tokoh Pahlawan meninggalkan kehidupan nyamannya di rumah atau markasnya. Beberapa bagian menunjukkan bahwa tokoh Pahlawan sudah mengeluarkan kekuatannya untuk mengalahkan tantangan-tantangan kecil yang datang dari anggota-anggota musuh dengan pangkat paling rendah.

Babak 5: Trials/Allies/Enemies

Pada babak ini, Pahlawan sudah menghadapi bentuk musuh yang nyata. Musuh ditampilkan dalam bentuk monster, setan, musuh bertopeng, geng kriminal, dan masih banyak kemungkinan lainnya. Di sinilah Pahlawan mendapatkan pengakuan pertama atas kehebatan dan kekuatannya. Tidak hanya itu, babak ini menjadi penting karena Pahlawan juga menerima petunjuk pertama atas misteri yang harus ia pecahkan. Petunjuk tersebut tertinggal secara tidak sengaja dari si musuh (berupa darah, sobekan pakaian, jejak kaki, jejak ban mobil, petunjuk senjata yang tertinggal, dan lain sebagainya).

Babak 6: Approach

Pada babak ini, Pahlawan menghadapi ketakutan terbesarnya. Musuh sudah nyata di depan dan kali ini, Pahlawan mengetahui bentuk fisik musuh beserta kekuatan aslinya. Di titik ini, biasanya dikisahkan ‘kekalahan sementara’ sang Pahlawan yang sedang menjalani misinya. Pahlawan akan terluka parah dan ditundukkan.

Baca Juga:  5 Inspirasi Ide Cerita Dari Kehidupan Sehari-Hari

Babak 7: Crisis

Pada babak ini, Pahlawan mengalami titik terendahnya. Pahlawan dapat dikisahkan ‘mati’ untuk tujuan ‘dilahirkan kembali’ atau bisa juga menggunakan formula cerita ‘ditinggalkan’ untuk kemudian berani membuktikan kembali. Crisis memiliki inti cerita ‘menyiksa’ tokoh pahlawan dengan berbagai pertanyaan mengenai kelayakan dirinya menghadapi tantangan berat seperti ini. Namun, babak Crisis akan membangkitkan pahlawan untuk menyelesaikan tantangan terbesarnya dan mampu memenangkan tantangan tersebut.

Babak 8: Treasure

Babak Treasure memberikan ‘hadiah’ atau sesuatu yang dapat diambil oleh si Pahlawan setelah mengalahkan musuhnya. Namun, hadiah dan kemenangan yang didapatkan oleh pahlawan tidak untuk dirayakan karena perjalanan pulang ke ‘dunia biasa’ menjadi tantangan besar yang harus dia hadapi sekali lagi.

Terdapat 12 tahap dalam hero's journey

Babak 9: The Path Home

Pada babak ini, Pahlawan akan mengingat lagi tujuannya dalam petualangan dan kemenangan yang sudah dia capai. Dia harus menemukan jalan pulangnya yang masih menyisakan tantangan-tantangan kecil. Di sinilah sang Pahlawan memiliki dua pilihan; tujuan pribadinya sendiri atau kepentingan yang lebih besar.

Babak 10: Ressurection

Ternyata oh ternyata… sang musuh belum mati, coy! Musuh akan bangkit lagi dengan kekuatan terakhir dan Pahlawan harus menghadapinya dengan sekuat tenaga. Pada babak ini, kemenangan pahlawan akan menyelamatkan banyak orang dan dunia pun menjadi dibersihkan kembali dari pengaruh jahat sang musuh. Namun, untuk menuju kemenangan tersebut, biasanya pahlawan akan menghadapi titik terendahnya sebelum akhirnya mendapatkan suplemen kekuatan terakhir berupa hal-hal tak kasat mata seperti kalimat penyemangat, atau benda fisik seperti kapsul energi, kristal, senjata terakhir, dan masih banyak device yang digunakan. Namun, jika kegagalan pahlawan yang ditampilkan, cerita akan menekankan pada kesengsaraan dunia setelah musuh berhasil berkuasa.

Babak 11: Resolution

Pada babak ini, semua kerumitan alur cerita pahlawan akan diluruskan. Pahlawan yang berhasil memenangkan petualangannya akan mendapatkan pujian, kehormatan, serta dielu-elukan oleh masyarakat luas. Namun, jika babak resolution menceritakan kekalahan sang pahlawan, maka babak resolution yang ditampilkan lebih ditekankan pada evaluasi sang Pahlawan untuk mengumpulkan kekuatan baru yang disiapkan lebih baik lagi demi mengalahkan si tokoh musuh.

Babak 12: Return to Status Quo

Inilah babak akhir bagi sang Pahlawan. Di Babak ini, Pahlawan kembali ke tempat asalnya, memperdalam ilmu, menyiapkan diri untuk tantangan yang lebih besar, namun tetap menjalani kehidupannya sebagai orang biasa.
Masih banyak teori Hero’s Journey menurut pandangan beberapa budayawan dan sastrawan, baik dalam budaya universal maupun teori-teori yang membahas cerita kepahlawanan asli Indonesia. Sebagai referensi tambahan, kami menambahkan beberapa judul buku referensi sebagai berikut:

  • Leeming, David Adams (1981). Mythology: The Voyage of the Hero. New York: Harper & Row.
  • Cousineau, Phil, ed. (1990). The hero’s journey: Joseph Campbell on his life and work. Foreword by Stuart L. Brown. New York: Harper and Row.
  • Vogel, Christopher (2007). The Writer’s Journey: Mythic Structure For Writers.
Baca Juga:  Yuk Unduh dan Baca Naskah Film Pendek Nomine Piala Citra "Elegi Melodi"

Untuk mengetahui formula cerita kepahlawanan khas Indonesia, kami merekomendasikan buku referensi Folklore Indonesia yang ditulis oleh James Danandjaja (1977).

Nah, bagaimana? Kamu tertarik membuat cerita tentang hidup seorang pahlawan? Semoga artikel ini bisa membantu kamu untuk menulis ceritanya, ya 😊

Norman Mahardhika

Creative Writer
Seorang penulis yang juga menggemari seni rupa. Lahir di Yogyakarta, 17 Agustus 1991 dan lulus dari jurusan Sastra Indonesia, UI tahun 2014. Mengawali karir di agensi periklanan, kemudian pernah bekerja di sebuah OTT multinasional, dan saat ini berfokus pada penulisan kreatif berbasis produksi film & video di Studio Antelope.
Norman Mahardhika
No Comments

Tulis Komentar:

× How can I help you?