6 Mitos Tentang Dunia Perfilman

Ada banyak orang yang mempunyai persepsi atau mitos tentang dunia perfilman, bener gak sih mitos itu atau malah fakta? Mari kita cek!

1. Film Animasi Hanya Untuk Anak-anak


Kita sebagai remaja ataupun orang dewasa pasti pernah merasakan ketika sedang menonton film animasi teman kita memberikan komentar “iddihh nontonya film animasi kaya bocah aja”. Eits tetapi sesungguhnya tidak semua film animasi untuk anak-anak, tergantung segmentasi film animasi itu mau dipertontonkan untuk kalangan umur berapa, film animasi juga dapat dinikmati orang dewasa karena animasi bukan hanya sebuah genre, melainkan sebuah medium yang memungkinkan mengekspresikan kebebasan bercerita. Apakah sudah ada yang pernah nonton “Spirited Away”? Nah, coba deh setelah nonton itu apakah film animasi buat anak-anak aja?

2. Produser Sebagai Penggelontor Dana Produksi Film

Persepsi ini tentunya mitos. Karena pemberi dana untuk keperluan produksi film bisa datang dari investor, sponsor, co-production, lembaga donor, csr dan crowdfunding. Untuk jadi produser film dengan model 0 rupiah pun bisa, tinggal bagaimana mencari investor atau sponsor untuk mendanai produksi film yang akan diproduksi. Tugas seorang produser adalah merancang, mengatur dan mengelola segala aspek produksi mulai dari pra produksi sampai dengan pasca produksi.

3. Film Indonesia Kualitasnya Tidak Lebih Baik Dari Hollywood

Persepsi ini sering terjadi dikalangan masyarakat bahwa film Indonesia kualitasnya lebih buruk dari Hollywod. Tidak semua film Indonesia lebih buruk dari Hollywood, ada beberapa film Indonesia yang secara unsur naratif dan sinematik lebih baik daripada film Hollywood. Contohnya: Film Marlina si Pembunuh Dalam Empat Babak film ini mendapatkan penghargaan NETPAC Jury Award di Five Flavours Asian Film Festival di Warsawa, Polandia dan skenario terbaik pada FIFFS Maroko edisi ke-11. Ada juga film garapan Wicaksono Wisnu Legowo, “Turah”, memenangkan penghargaan Singapore Internationl Film Festival 2016, Bengaluru International Film Festival 2017, Asean International Film Festival and Award 2017, Seoul International Agape Film Festival 2017, dan Cinemalaya Independent Film Festival 2017. Gimana masih pesimis dengan film Indonesia?

Baca Juga:  Tonton Kompilasi Visual Effect Pemenang Oscar Dari Masa ke Masa

4. Film Yang Tidak Laku Sudah Pasti Jelek

Kebanyakan orang menganggap film yang tidak laku dipasaran adalah film dengan kualitas yang jelek. Misalnya saja Film Night Bus (2017) yang hanya disaksikan oleh 20ribu penonton dan bertahan selama seminggu di 105 layar. Walau kalah pamor dari segi penonton, Night Bus menonjol dari segi kualitas. Night Bus sukses memborong enam Piala Citra sekaligus. Selain Film Terbaik, Night Bus memenangkan kategori penata busana terbaik, penata rias terbaik, penyunting gambar terbaik, penulis skenario adaptasi terbaik, dan pemeran utama pria terbaik.

5. Pekerja Film Duitnya Sedikit

Mitos apa engga ya ini? Anggapan ini sering terjadi dikalangan orang tua yang anaknya ingin terjun kedunia perfilman hehe. Berapa sih sebenarnya gaji pekerja film? Misalnya pekerjaan seorang sound recording, dalam satu project bisa bekerja dalam seminggu sampai sebulan, bisa mendapatkan sampai Rp150 juta rupiah. Waaw gede juga kan? Jadi jangan anggap remeh pekerja film. Juga apapun pekerjaannya harus dilakukan dengan sungguh-sungguh biar menjadi ahli dibidangnya!

6. Bugdet Produksi Film Harus Bermilyar-Milyar?

Eh tunggu dulu, persepsi bugdet produksi film harus bermilyar-milyar ini mitos dunia perfilman aja sih. Beberapa film yang diproduksi hanya berbudget dibawah 1 milyar. Ada juga film Indonesia yang tayang di bioskop dengan budget produksi low budget biasanya itu film indie dan hanya berkisar seratusan juta rupiah saja. Diantaranya ada film Turah (2016) yang memiliki biaya produksi sebesar 100 juta rupiah, dan film Siti (2014) sebesar 150 juta rupiah, bahkan bisa dapat Penghargaan Piala Citra kategori Film Terbaik.

Nah, gimana setelah mengetahui ada mitos tentang dunia perfilman ini? Sebelumnya ada yang percaya ga? Terus sekarang masih percaya atau udah ngga nih?

Dicky Dwiaji Himawan

Content Writer
Dicky Dwiaji Himawan lahir di Tegal, 6 Mei 1997. Mulai tertarik dengan dunia perfilman sejak SMP dan memiliki hobi menonton film. Menempuh pendidikan program studi film di salah satu sekolah tinggi swasta di Yogyakarta.
Dicky Dwiaji Himawan

Latest posts by Dicky Dwiaji Himawan (see all)

Baca Juga:  10 Film Yang Layak Ditunggu di 2018

Artikel Terkait:

No Comments

Tulis Komentar:

shares