Panduan Lengkap: Mengkomunikasikan Ide Cerita Melalui Presentasi Kreatif

Komunikasi adalah bagian penting dari proses kreatif, tak terkecuali pembuatan film. Seorang pembuat film, terutama sutradara, dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik. Komunikasi yang saya maksud bukan hanya komunikasi pada penonton melalui karyanya, tetapi juga komunikasi kepada pihak-pihak yang terlibat dalam pembuatan film.

Sayangnya dalam pengalaman saya bekerja dengan beberapa sutradara, hal ini seringkali disepelekan. Sutradara seringkali terbata-bata menyampaikan idenya, baik kepada kru juga kepada pihak rekanan. Akibatnya, seringkali para pihak tersebut tidak bergerak dalam satu visi yang sama. Walaupun sutradara sudah memiliki visi yang asik, menarik, dan jernih, namun bila tidak disampaikan dengan jelas, maka visi itu tidak ada artinya.

Lantas bagaimana sih caranya mengkomunikasikan ide kreatif kepada orang lain? Ada beberapa cara. Beberapa orang yang saya kenal memiliki kemampuan komunikasi yang sangat luar biasa. Bahkan hanya dengan gaya bicara, ditambah dengan gestur tubuh, pendengar sudah dapat menangkap isinya. Akan tetapi, kebanyakan orang membutuhkan bantuan tambahan dalam menjelaskan sesuatu. Nah, di sini presentasi kreatif, atau juga sering creative deck berperan penting.

Buat kamu yang belum akrab dengan istilah tersebut, tak perlu bingung. Presentasi kreatif yang saya maksud sesederhana presentasi Powerpoint atau Keynote atau Google Slides (tergantung preferensi-mu). Presentasi kreatif, atau creative deck, adalah presentasi yang berisikan informasi-informasi penting tentang project-mu, dan berguna agar orang lain mampu memahami ide kreatif-mu sebaik mungkin. Dengan kata lain, presentasi kreatif berfungsi untuk menjelaskan ide yang abstrak menjadi satu bentuk yang nyata.

BAGIAN 1: APA SAJA YANG PERLU DIMASUKKAN DI PRESENTASI KREATIF?

Apa saja yang perlu dituliskan dalam presentasi kreatif? Tidak ada jawaban yang pasti, sebab setiap orang mempunyai triknya sendiri-sendiri. Tetapi saya akan coba jabarkan poin-poin yang biasanya selalu ada dalam sebuah presentasi kreatif. Mari simak poin-poin berikut ini!

Gambaran Umum

Film tidak lepas dari berbagai aspek teknis. Sebelum lebih jauh menjelaskan inti cerita film-mu, coba mulai dengan menjelaskan gambaran umum film-mu, mulai dari genre, rencana durasi film, tema besar, dan kenapa kamu ingin membuat film ini. Hal ini akan membantu orang lain “menyamakan frekuensi” sebelum kamu masuk lebih dalam ke inti cerita.

Premis

Premis adalah salah satu isi yang harus diisi di dalam presentasi kreatif Ada pepatah yang mengatakan, “Apabila kamu tidak dapat menjelaskan sesuatu dengan sederhana, maka kamu belum cukup mengerti.” Kira-kira pepatah ini menjelaskan apa yang perlu kamu lakukan dalam merumuskan sebuah premis. Premis adalah sebuah kalimat yang menggambarkan filmmu secara keseluruhan. Setiap kata yang kamu pilih mempengaruhi persepsi orang lain pada ceritamu. Oleh karena itu, berhati-hatilah dalam memilih kata demi kata dalam premis.

Baca Juga:  Apa Itu Storyboard dan Bagaimana Menggunakannya

Catatan: Studio Antelope pernah membahas ini secara khusus, silakan klik link berikut ini untuk membaca artikel yang dimaksud. Atau tonton video “Siasat Sinema” yang juga membahas soal premis.

Alur Cerita

Alur cerita film Setelah menjelaskan filmmu secara keseluruhan dalam satu kalimat, sekarang kesempatan untuk masuk lebih dalam. Seberapa dalam? Tergantung keperluan. Jika kamu menggunakan presentasi kreatif untuk keperluan pitching atau rapat tahap awal dengan para kru, maka sinopsis saja cukup. Namun apabila proses sudah semakin jauh, maka penjelasan alur cerita yang lebih dalam diperlukan. Selain itu, forum atau dimana kamu akan mempresentasikannya juga mempengaruhi. Apabila kamu akan mempresentasikan ini dalam forum pitching yang durasinya pendek, maka tak perlulah menceritakan ceritamu terlalu detail dan dalam.

Pernyataan Sikap

Contoh Director Statement Elegi Melodi Untuk Creative Deck Setelah menjelaskan aspek “fisik” filmmu, maka perlu juga menjelaskan aspek “non-fisik”. Apa maksudnya “non-fisik”? Nilai. Yep, nilai yang kamu percaya dan membuat filmmu berbeda dengan film lainnya. Filmmu tentu membicarakan tema tertentu. Walaupun demikian, bukanlah tema sebuah film yang penting untuk kamu sampaikan, melainkan dimanakah posisimu sebagai pembuatnya dalam memotret tema tersebut. Tanpa sikap, filmmu akan menjadi generik, dan film generik mudah dilupakan. Tentu kamu tidak ingin membuat sesuatu yang mudah dilupakan.

Mood Board

Mood Board Elegi Melodi di dalam presentasi kreatif

Mood Board Dan Kembali BermimpiApa itu mood board? Mood board, atau diterjemahkan menjadi ‘papan suasana’, adalah kolase, baik foto maupun visual lainnya, yang disusun sedemikian rupa, agar dapat menyampaikan nuansa atau suasana tertentu. Sederhananya, jika nuansa keseluruhan film-mu cerah dan ceria, maka tentukanlah warna-warna apa saja yang mewakili nuansa tersebut. Lalu, carilah foto, lukisan, ilustrasi, grafis, atau visual apapun yang kamu rasa mewakili nuansa tersebut. Susunlah dalam presentasimu dan biarkan nuansa / suasana film-mu terceritakan dalam kolase tersebut.

Referensi Lainnya

Referensi Musik Dan Kembali Bermimpi

Referensi Elegi Melodi di Presentasi KreatifFilm adalah medium yang lengkap. Di dalam film, ada seni fotografi, peran, musik, bahkan kadang seni tari, beladiri, dsb. Oleh sebab itu, referensi yang dapat kamu cantumkan amat tidak terbatas. Kamu dapat mencantumkan potongan film, potongan musik, repro lukisan, video amatir yang kamu rekam di jalanan, dsb. Apapun itu, poinnya adalah agar referensi yang kamu cantumkan dapat membantu orang lain memahami idemu dengan lebih baik.

Baca Juga:  Apa Itu Film Pendek dan Seberapa Pendek kah Film Pendek?

BAGIAN 2: TIPS MENYAMPAIKAN PESAN

Oke, kita sudah bicara soal apa saja yang biasanya dicantumkan dalam sebuah presentasi kreatif atau creative deck. Lalu apa itu saja cukup? Tentu tidak, sebab selain membuat presentasi yang menarik, kemampuanmu mengkomunikasikannya juga penting. Saya punya kiat-kiat khusus yang biasanya saya terapkan saat mengkomunikasikan sebuah ide. Coba simak poin-poin berikut ini:

Buka Dengan “Kenapa”

Di bagian sebelumnya, saya sudah menyampaikan bahwa presentasi kreatif biasanya dibuka dengan gambaran umum proyek film-mu, untuk “menyamakan frekuensi” dengan pendengar. Nah, berdasarkan pengalaman saya, salah satu cara paling ampuh untuk “menyamakan referensi” adalah menjelaskan “kenapa” atau alasan mendasar kamu ingin membuat sesuatu.

Membuat film pasti menyita banyak waktu. Lalu, kenapa kamu rela untuk menghabiskan banyak waktu untuk membuat film ini. Apa motivasi yang mendasarinya? Bisa jadi alasannya sangat personal. Bisa jadi pula alasannya dari luar dirimu. Apapun itu ceritakanlah di awal presentasimu dengan terbuka, jujur, dan apa adanya. Ini akan membuat pendengar merasa terhubung secara personal dengan proyekmu. Jika sudah begitu, maka itu adalah awal yang baik!

Anggap Sebagai Seni Pertunjukan

Mempresentasikan sesuatu, terutama sesuatu yang abstrak seperti ide cerita, merupakan seni pertunjukan. Percayalah, ini adalah tentang bagaimana kamu mengolah anggota tubuhmu untuk menyampaikan sesuatu. Mulai dari gerak bibir, olah tubuh, seni ekspresi, sampai dengan hal-hal teknis seperti desain presentasi akan membantumu mengkomunikasikan sesuatu. Oleh karena itu, anggaplah ini sebagai seni pertunjukan. Gunakanlah aspek-aspek yang ada dalam seni pertunjukan sebagai ujung tombak penampilanmu.

Visi Sebelum Visual

Pada bagian pertama, saya sudah menjelaskan soal moodboard dan referensi visual. Nah, hal ini seringkali menjebak. Kenapa? Sebab kita cenderung mencari visual di website-website stok foto atau mesin pencarian, lalu tenggelam di dalam lautan visual tersebut, kemudian dengan mudah melupakan visi yang kita inginkan di awal.

Tentukan visi sebelum mencari visual. Inilah saran yang dapat saya berikan buat kamu yang sedang mencari referensi-referensi visual yang mendukung nuansa cerita filmmu. Sebelum mencari, kamu harus tahu dulu apa yang ingin kamu cari. Jangan biarkan mesin pencarian atau situs stok foto mendikte visimu. Semakin kamu didikte olehnya, semakin generik pula moodboard-mu.

Gunakan Struktur Tiga Babak

Tidak hanya film saja yang menggunakan struktur tiga babak, presentasi pun juga. Ketika menyusun slide demi slide, atur sedemikian rupa agar terasa mengalir bak film-film dengan struktur tiga babak. Bukalah dengan “kenapa”, paparkanlah “apa isinya”, lalu tutup dengan “bagaimana kamu mewujudkannya”. Tentu yang saya tulis barusan hanyalah salah satu contoh dari sekian banyak urutan yang dapat kamu gunakan.

Baca Juga:  Peran Penting Penata Busana Film

Terbukalah Dengan Masukan

Di akhir presentasi, lazimnya akan ada sesi tanya jawab atau diskusi. Di sini, kamu akan mendengar masukan. Nah, biasakan dirimu untuk terbuka dengan masukan, baik dari rekanan maupun kru film yang akan bekerja denganmu.

BAGIAN 3: KESIMPULAN

Saya ingin menutup artikel ini dengan mengingatkan kembali bahwa kemampuan mengkomunikasikan ide sangat penting, terutama untuk sutradara. Buat kamu yang terberkati dengan bakat alamiah berbicara di depan umum, maka selamat, akan tetapi buat kamu yang merasa kemampuannya terbatas, jangan berkecil hati. Kemampuan komunikasi ini dapat dilatih perlahan-lahan. Semoga pemaparan dan tips saya di atas dapat membantumu.

Kesimpulan terakhir saya adalah: buat para sutradara, jangan sepelekan presentasi kreatif dalam menyampaikan ide abstrak proyekmu. Percayalah, kemauan untuk berkomunikasi dan menyamakan visi dengan rekanan, kru, sampai pemeran akan mempermudah kerjamu. Bagaimana mereka dapat membantumu, kalau kamu sendiri saja enggan mengkomunikasikan A-Z visi kreatif yang ada di kepalamu, betul bukan?

Media Sosial

Jason Iskandar

CEO / Creative Director
Mulai membuat film di usia 17 tahun. Mendirikan Studio Antelope, bersama produser Florence Giovani, pada tahun 2011. Saat ini menjabat sebagai CEO & Creative Director di Studio Antelope.
Jason Iskandar
Media Sosial
No Comments

Tulis Komentar:

shares