4 Nilai Yang Kami Percaya di Studio Antelope

S

tudio Antelope lebih dari sekedar production house. Di artikel sebelumnya Klarifikasi Jason Iskandar Soal Studio Antelope, saya sudah memaparkan alasannya: pertama, aktivitas Studio Antelope tidak terbatas pada produksi film & konten saja, tetapi juga ada kegiatan lain yang tak kalah seru seperti pengembangan ide kreatif, distribusi konten, dsb; lalu kedua, Studio Antelope bukan hanya soal bikin film saja, tetapi juga punya nilai-nilai lain yang kami perjuangkan. Oleh karena keterbatasan tempat, saya belum sempat membahas banyak soal poin kedua. Nah oleh karena itu, saya ingin membahas poin tersebut secara lebih dalam di artikel berikut ini. Ada empat nilai utama yang kami percaya di Studio Antelope: bikin dan berbagi, keteraturan, kolaborasi, dan keragaman. Izinkan saya memaparkannya satu per satu.

Studio Antelope is a production house based in Jakarta, Indonesia.

Bikin dan Berbagi

Seperti yang sudah saya paparkan, agak kurang tepat rasanya menyebut Studio Antelope sebagai production house. Production house memang mewakili kegiatan ‘bikin’ yang kami lakukan: bikin film, bikin konten, bikin happy, bikin baper, dan bikin-bikin lainnya. Akan tetapi, sebagai perusahaan yang lahir dari komunitas film, kami punya misi lain yang tak kalah penting, yaitu ‘berbagi’.

Berbagi yang saya maksud tidak terbatas pada ilmu saja. Memang seperti yang sudah kalian
ketahui, Studio Antelope menggunakan media sosial untuk berbagi ilmu dan pengalaman seputar filmmaking, tetapi tidak maknanya lebih besar dari itu. Berbagi yang dimaksud adalah ‘berbagi’ inspirasi melalui karya dan konten yang kami ‘bikin’. Kami percaya ‘bikin’ tanpa ada semangat ‘berbagi’, tiada guna. Kami ingin setiap karya kami memberikan dampak positif bagi penontonnya.

Keteraturan

Saya percaya kreatifitas tidak lahir dari kekacauan. Mungkin sebagian orang punya pendapat
sebaliknya, tetapi tidak dengan saya. Untuk berkreasi, saya membutuhkan ruang dan budaya
yang teratur dan sistematis. Tentu saja, teratur dan sistematis yang saya maksud bukan berarti serba kaku dan hierarkis. Saya juga tidak percaya budaya kerja top-down dapat mendorong kreatifitas. Keteraturan yang saya maksud adalah sistem kerja yang terorganisasi, dimana setiap orang memahami dan menjalani fungsi dan perannya masing-masing, tetapi tetap berjalan dengan santai. Dinamis namun ritmis.

Baca Juga:  Style Hijab di Hijab Love Story 3

Kolaborasi

Build your filmmaking careers with us!

Apa sih hal yang paling mendasar dari proses pembuatan film? Kamera canggih? Efek visual
mewah meriah? Atau kru kawakan? Tidak semuanya. Kamera canggih, efek visual mewah meriah, serta kru kawakan tak akan menghasilkan apa-apa tanpa ada semangat untuk berkolaborasi. Studio Antelope berupaya untuk menerapkan semangat berkolaborasi bahkan sejak sebelum sebuah proyek itu ada. Dimulai dari dalam Studio Antelope, kemudian ke teman-teman freelancers serta pihak ketiga yang bekerjasama dengan kami, dan harapannya dapat menyebar luas ke seluruh komunitas kreatif.

Keragaman

Cerita adalah fondasi sebuah karya audio-visual. Tanpa cerita yang baik, teknologi apapun tak
akan bisa menyelamatkan sebuah karya. Dan kami percaya cerita dapat datang darimana saja. Kami percaya setiap manusia memiliki cerita untuk dibagikan. Oleh karena itu, kami sangat menghargai keragaman manusia dan cerita yang tersimpan di setiap individu. Sebagai storyteller, tugas kami adalah mempertajam kepekaan terhadap ragam cerita, membungkusnya secara cermat dalam kemasan yang tepat, lalu menyampaikannya lewat karya.

Media Sosial

Jason Iskandar

CEO / Creative Director
Mulai membuat film di usia 17 tahun. Mendirikan Studio Antelope, bersama produser Florence Giovani, pada tahun 2011. Saat ini menjabat sebagai CEO & Creative Director di Studio Antelope.
Jason Iskandar
Media Sosial
No Comments

Tulis Komentar:

× How can I help you?