5 Film Pendek Ngapak Dari Banyumas Raya

Dialek Bahasa Jawa “Banyumasan”, atau yang biasa disebut Bahasa Ngapak sering banget kita dengarkan dari teman-teman kita yang berasal dari Banyumas Raya. Sayangnya, bahasa yang lahir dari percampuran antara Bahasa Sunda dan Bahasa Jawa ini belum banyak kita temukan dalam media TV atau media mainstream lainnya.

Walau begitu, Wong Banyumasan (sebutan bagi warga Banyumas Raya) mulai mengambil kembali kebanggaan akan bahasa ini melalui karya-karya film mereka, dengan menggunakannya pada seluruh dialog dalam film. Bahkan, topik yang diangkat oleh filmmaker Banyumasan sendiri berlatar belakang permasalahan sosial yang terjadi di sekitar mereka. Berikut adalah film-film Banyumasan yang patut diperhitungkan dengan mempertahankan Bahasa Ngapak sebagai identitas asli filmmaker-nya. Lagipula, ora ngapak ora kepenak, mbog.

Salah satu komunitas di Purbalingga yang rajin membuat film pendek ngapak adalah CLC Purbalingga. Ada beberapa film dari CLC Purbalingga yang dicantumkan di artikel ini.

1. Peronika (2004) oleh Bowo Leksono

Bowo Leksono adalah salah seorang tokoh yang berjasa banget dalam membangkitkan semangat perfilman daerah Banyumas Raya. Film-filmnya yang sudah melanglang buana di beberapa festival film patut diperhitungkan, karena membawa Bahasa Ngapak dalam karya film pendek di ranah internasional. Salah satunya adalah film “Peronika”. Film ini bercerita tentang masalah dalam keluarga yang melibatkan pihak ketiga bernama Peronika.

Film pendek ngapak yang rilis tahun 2004 ini kesempatan untuk ditayangkan di beberapa festival film internasional seperti European Film Festival tahun 2007, Indonesian Film Festival di Melbourne University tahun 2006, dan mendapatkan penghargaan di berbagai festival film nasional.

Film ini bisa ditonton di channel youtube komunitas CLC Purbalingga:

2. Metu Getih (2006) oleh Heru C. Wibowo

Selain film Peronika, ada lagi nih film pendek ngapak yang pernah diputar di festival film internasional. Metu Getih karya Heru C. Wibowo berhasil lolos dalam European Film Festival tahun 2007 dan berhasil masuk sebagai salah satu nominasi Festival Film Indonesia tahun 2006.

Baca Juga:  Riri Riza dan Cerita Tentang Ibu

Film ini menceritakan tentang kepolosan seorang anak perempuan yang membatalkan puasanya karena mistranslasi bahasa dari teman sebayanya. Metu Getih merekam pengalaman awam anak perempuan di pedesaan mengenai siklus menstruasi yang bersinggungan dengan pelaksanaan ibadah puasa di Bulan Ramadan.

3. Leng Apa Jengger (2013) oleh Bowo Leksono & Sigit Harsanto

Masih ingat dengan penari rombongan Lengger Lanang di film Kucumbu Tubuh Indahku? Kesenian Banyumas ini tidak luput dari perhatian filmmaker asli Banyumasan, Bowo Leksono & Sigit Harsanto, pada tahun 2008 silam. Pengakuan para penikmat kesenian Lengger dalam film “Leng Apa Jengger” membuka jalan bagi penonton untuk mengetahui kesenian ini dalam perspektif para lelaki yang tergila-gila dengan Dariah, salah satu Lengger Lanang yang menjadi primadona di masa lalu. Dariah mengakui bahwa menjadi seorang Lengger bukan pekerjaan yang mudah karena harus memenuhi permintaan laki-laki penikmat kesenian ini, yang tidak jarang telah memiliki istri masing-masing. Transformasi Dariah dalam menjadi Lengger pun melalui proses panjang yang didukung oleh arwah para leluhur.

Bahasa Ngapak yang digunakan dalam film ini tidak seperti bahasa yang sering kita dengar, karena narasumber masih menggunakan Bahasa Ngapak halus yang lebih sering digunakan oleh warga lanjut usia.

4. Lawuh Boled (2013) oleh Misyatun

Selain filmmaker dewasa, film-film Banyumasan juga dibuat oleh sineas muda, lho. Salah satunya film Lawuh Boled karya siswa SMK Negeri 1 Rembang, Misyatun. Bahkan prestasi yang diperoleh melalui film ini pun tidak tanggung-tanggung. Beberapa di antaranya adalah Film Terbaik Gayaman Awards di Festival Film Solo tahun 2013, Film Fiksi Terbaik II di Festival Film Surabaya tahun 2013, dan Film Fiksi Pendek Terbaik di Festival Film Purbalingga tahun 2013.

Baca Juga:  10 Kata Kata Mutiara Sutradara Untuk Motivasi Berkarya

Lawuh Boled mengangkat cerita seorang Ibu di Rembang yang mengalami kesulitan dalam mengambil jatah raskin, karena keterbatasannya sebagai warga buta huruf serta dibelit oleh birokrasi yang menyusahkan proses penyaluran bantuan bagi warga di sana.

5. Izinkan Saya Menikahinya (2006) oleh Raeza Raenaldy Sutrimo

Selain siswa SMK, sineas Banyumasan yang berasal dari Sekolah Menengah Atas juga tidak kalah produktif, nih. Salah satunya adalah Raeza Raenaldy Sutrimo, sutradara film Izinkan Saya Menikahinya. Film ini menceritakan tentang rencana pernikahan Suryati dan Suryono yang terancam gagal karena peraturan ketat yang menjerat Suryono sebagai seorang anggota TNI. Ia tidak diperbolehkan menikahi calon istrinya karena kakek Suryati menyandang status sebagai seorang eks-tahanan politik, sehingga kesetiaannya dalam mencintai sang calon istri dipertanyakan kembali. Stereotip Bahasa Ngapak sebagai bahasa yang lucu tertampik melalui film ini karena digunakan sepanjang film oleh seluruh karakter dalam topik yang sangat serius.

Film ini telah lolos di berbagai festival film seperti Psychology Film Festival (Psychofest) tahun 2016, Binus Film Week 2016 dan dinobatkan sebagai Best Short Fiction Film Ucifest 2016.

Jika kamu menyukai film-film pendek, kami punya beberapa artikel yang membahas daftar film-film pendek. Misalnya, 5 film pendek horror Indonesia paling seram.

EITS! Ada BONUS nih, selain film ada juga lho webseries yang berbahasa ngapak.

Keluarga Pak Carik The Series

Setelah melihat daftar di atas, kamu makin penasaran dengan film-film Banyumas Raya, kan? Nah, ada yang baru lagi nih buat kamu! Komunitas Cinema Lovers Club Purbalingga baru-baru ini bekerjasama dengan Institut Seni Indonesia Surakarta dan Pemerintah Kabupaten Purbalingga untuk membuat serial Banyumasan berjudul Keluarga Pak Carik.

Baca Juga:  Teka Teki Sinema: Sinematografi UI vs LFM ITB!

Hingga saat ini, film serial Keluarga Pak Carik telah memproduksi dua episode yang berjudul Kandang Sapi dan Penganten Cilik. Keduanya membahas tentang permasalahan sosial yang berlatar belakang di Purbalingga, seperti pernikahan dini dan kisruhnya penyaluran bantuan pemerintah pusat untuk kelompok peternak sapi. Serial ini dikemas dengan sangat unik dan ringan karena dimulai dari percakapan beberapa ibu-ibu di sebuah warung dengan topik yang sangat erat dalam kehidupan warga Purbalingga.

Sayangnya, film serial ini belum bisa diakses secara luas karena hanya ditayangkan di pelataran SMA Antonius Agustinus Purbalingga dan Bioskop Rakyat CLC Purbalingga awal tahun 2019 lalu. Tapi, kalau kamu penasaran banget bisa cek trailer-nya dulu di sini sambil iseng belajar Bahasa Ngapak dari keluarga Pak Carik.

Yosua Imantaka

Content Writer
Seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di Universitas Sebelas Maret yang sedang menekuni penulisan kritik film. Kerap ditemukan menangis setelah menonton film coming-of-age.

Latest posts by Yosua Imantaka (see all)

No Comments

Tulis Komentar:

× How can I help you?