3 Jenis & Cara Meletakkan Call to Action dalam Video

Jika kita mendengar sebuah kalimat, ‘download/unduh sekarang!’ atau ‘aktifkan sekarang!’, hingga sebuah kata perintah tunggal ‘buruan!’, sesungguhnya kita sedang dipanggil untuk menentukan aksi setelah menonton sebuah video. Kalimat singkat tersebut merupakan kalimat ajakan yang dirancang untuk memengaruhi penonton. Penonton diharapkan dapat mengonversi kesan menjadi sebuah aksi, khususnya aksi untuk mengonsumsi atau membeli. Jadi, Call to Action adalah secara singkatnya ialah instruksi untuk melakukan aksi sebagai konsumen atau pembeli. Lalu, bagaimana sih contoh meletakan call to action dalam video?

Sebelum membahas lebih lanjut tentang Call to Action, mari kita pahami bersama tiga jenis Call to Action yang sering kita temui dalam berbagai video.

Direct Approach

Jenis ini adalah yang paling umum kita jumpai. Jenis call to action dengan pendekatan langsung (direct approach) biasanya menjelaskan secara detail aksi yang harus diambil oleh penonton. Untuk jenis CTA Direct Approach, biasanya produk yang dijual dapat dijangkau oleh banyak kalangan dan manfaatnya dapat dirasakan secara langsung.

Aksi yang ditunjukkan bisa berupa ‘beli sekarang’, ‘dapatkan sekarang’, ‘download/ unduh sekarang’, ‘Tonton di Bioskop Kesayangan Terdekat’, dan masih banyak aksi yang bisa dimunculkan dalam Call to Action. Bahkan, ada yang lebih detail dengan menunjukkan mekanisme dan tempat mendapatkan produk yang dipromosikan.

Soft Approach

Jenis ini tidak menekankan detail secara mendalam. Soft Approach lebih menonjolkan benefit produk dengan harapan penonton akan termotivasi untuk mengonversi kesannya menjadi aksi pembelian. Biasanya, pendekatan soft approach digunakan untuk video iklan yang juga menggunakan pendekatan soft selling. Pendekatan ini sering digunakan iklan-iklan dengan produk berharga tinggi dan butuh konsultasi mendalam seputar pembelian produk. Dalam hal ini, pengiklan juga menyadari bahwa mereka memasarkan untuk proses diskusi lebih lanjut.

Kalimat CTA yang sering ditunjukkan dengan metode ini adalah: ‘Daftar Sekarang’, ‘Ajukan Sekarang’, ‘pertanyaan lebih lanjut, hubungi contact center kami’, dan ajakan-ajakan untuk berkonsultasi secara mandalam.

Reflective Question

Ketika sebuah video memuat pertanyaan yang membuat penonton berpikir ulang secara mendalam, maka pertanyaan tersebut adalah Call to Action berjenis Reflective Question. Jenis ini dirancang untuk membuat penonton memahami sebuah situasi dan kemudian memiliki waktu berpikir untuk menentukan aksi berikutnya. Call to action jenis ini juga dirancang untuk menggelitik hati penonton, menyindir, atau bahkan membuka fakta seterang-terangnya.

Baca Juga:  5 Bahan Dasar untuk Membuat Iklan Facebook yang Baik

Biasanya, jenis call to action ini disertai dengan data, riset dan fakta sesuai kebutuhan. Masih ingat video kampanye untuk mengurangi sampah plastik? Apakah kamu ingat dengan data jumlah sampah plastik yang ditampilkan? Setelah video itu ditayangkan, call to action pun dimunculkan dengan inti, “apakah kamu ingin membiarkan Bumi kita tercemar?”. Pernyataan itulah yang dimaksud dalam Reflective Question.

Setelah menyimak tiga jenis call to action yang umum kita jumpai di berbagai campaign video, maka mari kita membahas contoh bagaimana cara meletakkan call to action. Setidaknya ada tiga cara meletakkan call to action supaya dapat diidentifikasi penonton dengan mudah.

Menggunakan Dialog

Video yang dirancang dengan cerita sederhana biasanya disertai dialog. Di dalam kalimat dialog, call to action dapat dimunculkan. Dengan memasukkan kalimat call to action ke dalam dialog, diharapkan pesan ‘iklan’ dapat ditampilkan dengan lebih organik.

Mari kita perhatikan contoh di bawah ini:

Suatu hari di tempat ruang meeting.

Pritta: Blazer kamu baru, ya?
Windy: Enggak, ini udah lama…
Keesokan harinya.
Pritta: Kemeja kamu baru juga?
Windy: Enggak! Ini udah lama!
Pritta: Kok bisa baju lama keliatan kayak baru gitu, sih?
Windy: Aku nyucinya pake deterjen Mantul.
Pritta: Deterjen Mantul?
Windy: Iya… deterjen konsentrat yang bikin kita nggak usah capek-capek ngucek. Langsung bersih kayak baru. Dengan formula 1.000 tangan, baju kita akan bersih maksimal dalam waktu 15 menit.
Pritta: Wah… daripada beli baru aku juga mau nyuci pake deterjen Mantul, ah!
Windy: Iya dong! Pake sekarang! Bisa kamu dapetin di supermarket terdekat…

Kalimat terakhir yang diucapkan Windy adalah contoh call to action melalui dialog. Dengan cara seperti itu, diharapkan penonton dapat terkesan dengan ide ceritanya sekaligus termotivasi untuk mencoba produk yang diiklankan.

Menggunakan Superimposed Text & Ending Announcer

Cara ini adalah yang paling umum dilakukan oleh pengiklan. Call to action akan dipisah dengan tujuan untuk memberikan ruang khusus pada dua bagian inti promosi. Cara ini didasarkan pada formula sederhana storyline sebagai berikut:

Baca Juga:  6 Ide Konten Video Untuk Brand Kuliner

Salah satu contoh formula call to action

Setelah melihat rumusan formula di atas, mari kita perhatikan contoh peletakkan call to action-nya.

1) Story: Visual menceritakan Erika sedang berada di pesawat dan mendarat di Bandar Udara Ngurah Rai, Bali.
Narator: Liburan yang cerah, saatnya Erika berlibur ke Bali.

2) Problem 1: Kemudian, visual memperlihatkan Erika sedang berjalan-jalan di pinggir Pantai Padang-Padang. Erika tampak memegangi kulitnya sesekali.
Narator: Cuaca panas bikin kulit makin kering… eh… Sunblock-nya kok gak mempan, sih?

3) Problem 2: Dengan panik, Erika merebut sunblock milik teman di sampingnya.
Narator: Hmmm… cobain pake sunblock temen… eh, kok malah gatel?

4) Problem 3 (Climax): Erika pun berteriak di tengah-tengah kerumunan wisatawan karena kulitnya sensitif dan momen liburannya terganggu.
Narator: Wahh… kenapa jadi kacau liburan Erika!

5) Solution: Sesaat setelah Erika berteriak histeris, seorang Bodyguard Pantai menyelamatkannya dengan memberikan sebuah sunblock cream merk Melon Boat.

6) Product Window: Keunggulan produk Melon Boat dimunculkan dan diucapkan Announcer.
Announcer: Melon Boat dengan SPF 50 dan ekstrak Jeruk Bali, nyaman digunakan untuk kulit sensitif. Momen Liburanmu jadi makin seru!

7) Superimposed Text: SPF 50 & EKSTRAK JERUK BALI

8) Call to Action: Liburan jadi makin asyik pakai Melon Boat! Dapatkan di Upson terdekat!

9) Superimposed Text: MELON BOAT. DAPATKAN DI UPSON TERDEKAT!

Di atas adalah contoh peletakkan call to action dengan menggunakan superimposed text dan ending announcer.

Menggunakan Interactive Button

Interactive button dirancang dengan memuat link website tertentu yang menjadi tempat menjual atau menyediakan produk yang diiklankan. Biasanya ditunjukkan dengan thumbnail button, swipe-up link (pada Instagram story), Linked thumbnail (pada YouTube), atau direct link button. Melihat berbagai spesifikasi yang sudah disebutkan, call to action yang menggunakan interactive button akan lebih terpakai di platform tayang digital.

Video-video dengan digital placement sering dirancang untuk lebih interaktif karena privilege-nya dalam hal teknologi yang memungkinkan interaksi langsung antara penonton dengan video yang sedang ditayangkan. Oleh karena itu, jika kita mendapatkan brief video dengan platform tayang digital, mari kita berkreasi lebih gila lagi karena banyak kemungkinan untuk membuat interaksi dengan penonton!

Baca Juga:  Amatir vs Profesional: Pentingnya Menghire Profesional Untuk Proyek Video Anda

Pada saat syuting, biasanya DP atau Sutradara akan memberikan ruang khusus untuk peletakkan interactive button.

Call to Action dalam Video

Seperti pada ilustrasi di atas, penempatan frame akan diatur sedemikian rupa sehingga memuat interactive button yang akan ditampilkan.

Nah, siap berkreasi dengan call to action? Pastikan kalimat call to action yang dibuat unik, menggelitik, dan asyik, ya!

*) Storyline yang ditampilkan di atas tidak ada berkaitan dengan brand tertentu. Kesamaan nama bukan merupakan sebuah kesengajaan dan dibuat hanya untuk kepentingan ilustrasi.

Norman Mahardhika

Creative Writer
Seorang penulis yang juga menggemari seni rupa. Lahir di Yogyakarta, 17 Agustus 1991 dan lulus dari jurusan Sastra Indonesia, UI tahun 2014. Mengawali karir di agensi periklanan, kemudian pernah bekerja di sebuah OTT multinasional, dan saat ini berfokus pada penulisan kreatif berbasis produksi film & video di Studio Antelope.
Norman Mahardhika

Latest posts by Norman Mahardhika (see all)

No Comments

Tulis Komentar: