4 Prinsip Dasar Pembuatan Storyboard

Dalam konsep kreatif di dunia perfilman, animasi, periklanan, dan permainan interaktif (video games), Storyboard berfungsi untuk memperjelas alur cerita serta memberikan gambaran awal sebelum karya tersebut matang secara visual. Storyboard dibutuhkan sebagai ‘energi’ saat mempresentasikan konsep dan ide cerita. Selain itu, Storyboard juga berperan penting untuk mengunci konsep kreatif supaya terarah dan terukur.

Biasanya, Storyboard dibuat setelah penyusunan naskah jalan cerita (storyline) selesai. Storyboard menerjemahkan konsep tulisan ke dalam konsep visual dengan beberapa penafsiran ulang. Namun, ada empat prinsip pembuatan Storyboard yang perlu diperhatikan oleh visualizer/ Storyboard Artist. Apakah kamu berniat membuat Storyboard untuk mematangkan konsep film, animasi, atau karya audio- visual lainnya? Simak keempat prinsip pembuatan Storyboard di bawah ini! Jika kamu tertarik pada pembuatan creative deck , kami juga pernah membahas panduan lengkap mengkomunikasikan ide lewat presentasi kreatif.

Prinsip Pertama: Kreatif

Prinsip pertama pembuatan Storyboard adalah KREATIF, yaitu prinsip yang menekankan keaslian dan keunikan karya. Apabila jalan cerita masih dirasa datar, Storyboard berfungsi untuk menyempurnakannya dengan beberapa penambahan atau pengurangan supaya jalan cerita lebih hidup. Selain itu, penggambaran karakter dan latar cerita dalam Storyboard harus luwes dengan garis yang dinamis.

Kreativitas yang dimaksud juga memperhatikan komposisi shot di setiap frame- nya. Sebagai gambaran, perhatikan perbandingan dua ilustrasi di bawah ini:

Gambar 1
Prinsip Dasar Pembuatan Storyboard Pertama: Kreatif!

Gambar 2
Kreatif adalah prinsip dasar dalam pembuatan storyboard.

Kedua gambar ini berasal dari brief yang sama, yaitu untuk “menggambarkan seorang nenek yang kartu atm-nya dicuri oleh orang tak dikenal”.

Gambar 1 menunjukkan kejahatan yang lebih nyata karena menampilkan zoomed in frame berisi ‘tangan si pelaku menarik dan menyembunyikan kartu tersebut dari mulut slot kartu.’

Gambar 2 menunjukkan seorang pemuda yang memandu seorang nenek untuk menggunakan mesin atm, kemudian si pemuda berniat mencuri kartu atm tersebut.

Baca Juga:  8 Asosiasi Pekerja Film Yang Perlu Kamu Ketahui

Dari dua gambar tersebut, mana yang lebih terasa kejahatannya? Dalam hal ini kreativitas saat menyusun elemen-elemen ilustrasi wajib diperhatikan. Kreativitas yang dimaksud mencakup: komposisi gambar, ruang gerak karakter, ekspresi, dan garis. Apabila kita sudah mempertimbangkan elemen-elemen ilustrasi tersebut, maka kita beralih ke prinsip kedua.

Prinsep Kedua: Komunikatif

Storyboard bisa dipersepsikan sebagai sebuah komik tanpa balon dialog (callouts). Oleh karena itu, komposisi angle, garis, dan pewarnaan harus mewakili prinsip yang kedua, yaitu prinsip KOMUNIKATIF. Dalam prinsip ini, seorang Storyboard Artist/Visualizer harus memperhatikan ekspresi karakter, garis bantu gerakan, dan komposisi latar tempatnya.

Untuk memperjelas prinsip yang kedua, perhatikan perbandingan dua ilustrasi sederhana di bawah ini.

Gambar 1
Prinsip kedua membuat storyboard: komunikatif

Gambar 2
Komunikatif salah satu prinsip pembuatan storyboard

Pada gambar 1, kita melihat visual sederhana dari orang yang berpose seperti menari. Pada gambar 2, visual menunjukkan pose yang sama, namun dengan adanya garis bantu di area tangan dan kaki, pesan dalam gambar tersebut menjadi semakin jelas, dan seolah-olah ‘menggerakkan’ gambar tersebut. Inilah yang dimaksud dengan prinsip komunikatif, yaitu menjelaskan aksi dengan garis dinamis dan mudah dimengerti.

Sejauh ini, kita sudah membahas prinsip KREATIF dan KOMUNIKATIF. Setelah kedua prinsip tersebut sudah dipahami, saatnya beralih ke prinsip ketiga.

Prinsip Ketiga: Efisien & Efektif

Storyboard yang baik harus memegang prinsip yang ketiga yaitu efisien dan efektif. Seorang visualizer disarankan untuk tidak menghabiskan waktu berlama-lama demi detil-detil kecil dalam sebuah gambar. Prinsip ini mengharuskan seorang visualizer untuk berani membuang detil kecil, demi ide cerita yang mudah dipahami. Ingatlah pernyataan berikut ini: “Storyboard disusun bukan untuk menunjukkan gambar yang cantik, melainkan disusun untuk mudah dimengerti dan efektif dalam mengkomunikasikan ide cerita.”

Menurut Rachit Gupta dalam artikelnya yang berjudul Star People: How to Storyboard Quickly and Effectively (2015), seorang visualizer/ Storyboard Artist disarankan membuat beberapa perkiraan sebelum pengerjaan dimulai. Ikutilah alur berikut ini; membaca storyline, membuat perkiraan waktu pengerjaan, memulai dengan sketsa dasar, selesaikan hingga satu hari sebelum waktu perkiraan yang kamu tetapkan, dan pada saat deadline; lakukan penyempurnaan akhir. Apabila alur ini diikuti dengan baik, maka prinsip efektif dan efisien sudah berhasil dilakukan.

Baca Juga:  Apa Tugas Manajer Produksi Film Di Dalam Produksi

Setelah itu, ada prinsip yang cukup menguji seorang Storyboard Artist dalam menyusun Storyboard yang baik. Mari kita simak prinsip terakhir di bawah ini.

Prinsip Keempat: Estetis

Prinsip ini menuntut seorang Storyboard Artist untuk menyajikan gambar dengan rasa dan keindahan. Pada prinsip sebelumnya, seorang Storyboard Artist diminta untuk tidak menghabiskan waktu demi detil-detil kecil di ilustrasi yang sedang dikerjakan. Apakah dengan mengabaikan detil-detil terkecil yang tidak esensial untuk ditampilkan, Storyboard dapat dibuat secara asal-asalan?

Apabila ada Storyboard yang justru membuat kita bertanya-tanya, “apa maksudnya?”, Storyboard tersebut tidak memenuhi prinsip estetis.

Sebagai gambaran, mari perhatikan dua gambar ilustrasi di bawah ini!

Gambar 1
Estetis atau estetika dalam storyboard

Gambar 2
Storyboard artist

Pada awalnya seorang visualizer menerima brief dari klien seperti ini; “tolong buatkan gambar orang laki-laki sedang menampar ke arah depan.” Storyboard Artist 1 mengerjakan dalam waktu 3 menit. Dengan brief yang sama, Storyboard Artist 2 mengerjakan dalam waktu 10 menit. Setelah diulas bersama-sama, hasil karya Storyboard Artist 1 malah menimbulkan pertanyaan-pertanyaan sebagai berikut:

  • Orang tersebut laki-laki atau perempuan?
  • Orang tersebut berlari atau menampar?
  • Orang tersebut tersenyum atau marah?

Apa yang kamu pikirkan? Untuk memvisualisasikan “orang laki-laki menampar”, pasti kamu setuju kalau gambar 2 lebih jelas maksudnya, kan? Dalam hal ini, Storyboard Artist 2 berhasil menerapkan prinsip ESTETIS.

Setelah mengetahui prinsip-prinsip pembuatan Storyboard, saatnya kita melatih diri. Mari kita mulai dengan 5 poin jalan cerita di bawah ini.

  1. Pagi hari. Matahari terbit dari balik perbukitan di sebuah desa.
  2. Pagi hari. Seorang petani kopi berjalan di area perkebunannya.
  3. Pagi hari, close-up ke tangan si petani yang sedang memetik buah kopi
  4. Siang hari. Medium shot di sebuah ruang penggorengan biji kopi
  5. Close up ke wajah si penggoreng yang menyibakkan bau harum kopi ke hidungnya.
Baca Juga:  Cadrage: Aplikasi Director's Viewfinder - #SiasatSinema

Selamat berlatih, ya! Semoga artikel ini berguna buat kamu yang mau membuat Storyboard.

Norman Mahardhika

Creative Writer
Seorang penulis yang juga menggemari seni rupa. Lahir di Yogyakarta, 17 Agustus 1991 dan lulus dari jurusan Sastra Indonesia, UI tahun 2014. Mengawali karir di agensi periklanan, kemudian pernah bekerja di sebuah OTT multinasional, dan saat ini berfokus pada penulisan kreatif berbasis produksi film & video di Studio Antelope.

Latest posts by Norman Mahardhika (see all)

No Comments

Tulis Komentar:

shares