Screenwriting

5 Checklist Dokumen Yang Harus Disiapkan Sutradara Sebelum Syuting

Share

Sutradara bertugas menerjemahkan naskah menjadi gambar dan suara. Terdengar mudah, namun sebetulnya pekerjaan sutradara lebih rumit dari itu. Ada lelucon yang mengatakan bahwa sutradara terlibat dalam segala hal, namun tidak melakukan apa-apa. Lelucon itu ada benarnya, namun juga tak sepenuhnya benar. Benar, karena sutradara selalu dibantu oleh departemen lain yang membantunya mewujudkan visinya. Tak sepenuhnya benar, karena sebetulnya sutradara mesti mempersiapkan beberapa hal.

Sutradara harus membangun sebuah semesta. Sebagaimana semesta tempat kita hidup, semesta dipenuhi dengan karakter, masalah, latar tempat, latar waktu, dialog, dan elemen-elemen lain yang cukup kompleks namun harus dipikirkan oleh seorang sutradara. Semua harus dibingkai dalam kerangka frame yang dipilih oleh sutradara. Belum lagi ia harus memikirkan hal-hal teknis lain seperti kamera, suara, musik, adegan, akting pemeran, dsb. Semua harus bersatu membentuk harmoni.

Oleh karena itu, persiapan adalah kunci. Sutradara harus memahami betul seluk beluk film yang akan dibuatnya. Ia harus memahami karakter dalam filmnya dengan mendalam. Seorang sutradara pun harus memiliki visi visual yang tegas agar dunia yang dibuatnya menarik bagi orang lain. Sutradara juga dituntut untuk memiliki kemampuan komunikasi yang baik agar kru memahami betul visinya.

Di postingan ini, kami ingin membantumu, para sutradara muda, dalam mempersiapkan film pendekmu. Dokumen-dokumen ini mudah-mudahan bisa membantumu memikirkan baik unsur intrinsik cerita maupun hal teknis sebelum pengambilan gambar dimulai. Dokumen ini juga mudah-mudahan bisa membantumu mengkomunikasikan visimu ke rekan-rekan kru satu produksi. Ini dia checklist dokumen yang harus disiapkan sutradara:

 

Director’s Treatment

Hal pertama yang mesti kamu lakukan sebagai sutradara adalah membuat Director’s Treatment. Apa itu director’s treatment? Director’s treatment adalah pernyataan pendekatan yang kamu pilih sebagai sutradara dalam bercerita. Biasanya dibuat dalam satu presentasi yang dikemas menarik agar orang lain memahami seutuhnya visimu sebagai sutradara.

Dalam presentasi ini, kamu mesti memuat berbagai hal. Lebih lengkap lebih baik karena tentu semakin utuh pemahaman rekan kru di departemen lain, maka semakin mudah pula mereka bekerja untuk merealisasikan visimu. Tulis dan lampirkan referensi visual (bisa gambar potongan adegan dari film lain, bisa foto, lukisan, dsb). Lampirkan juga referensi visimu tentang berbagai unsur intrinsik, seperti latar tempat (set & interior), pakaian (wardrobe), makeup, preferensi pemeran (casting), tone warna (color grading), pendekatan kamera, deskripsi karakter, dsb.

Di sini pula kamu harus bisa memberikan pernyataan tentang filmmu. Selain visi visualmu, rekan kru yang lain juga harus bisa memahami misimu dalam film yang akan kalian garap bersama. Jujurlah dalam menceritakan visimu. Pastikan mereka memahami dan punya visi dan misi yang sama. Sebelum melangkah lebih jauh, tentu kalian harus punya tujuan yang sama. Oleh karena itulah, director’s treatment menjadi sangat penting untuk dibuat sejak awal.

Unduh Contoh Director’s Treatment

 

Music Reference

Musik memegang peranan penting dalam bercerita. Seringkali musik dapat membantu sutradara dalam bercerita, namun tak jarang juga musik malah merusak cerita. Oleh karena itu, tugas sutradara sejak awal adalah mencari referensi musik yang kira-kira dapat membantunya memperkuat cerita.

Duduk dan berdiskusilah dengan penata musik yang sudah kamu pilih. Presentasikan director’s treatment mu agar ia paham dunia seperti apa yang akan kamu bangun. Ceritakan pula niatanmu agar persepsinya tak meleset dari visimu. Perkuatlah argumenmu dengan referensi musik / scoring lain yang senada. Jelaskan pula padanya kenapa kamu menyukainya dan kenapa musik itu bisa memperkuat ceritamu.

Unduh Dokumen ‘Referensi Musik’

 

Related Post

Analisis Karakter

Saat reading, karakter akan berkembang semakin dalam. Walaupun demikian, sutradara harus memiliki bahan-bahan dasar karakter. Setidaknya seorang sutradara harus memahami sifat-sifat dasar karakter yag ada di cerita. Ia harus memahami fungsi dan peran karakter tersebut dalam cerita. Selain itu, sutradara juga harus mengerti hubungan satu karakter dengan karakter lainnya.

Sutradara harus bisa menjelaskannya pada pemeran-pemeran yang sudah dipilih. Dalam sesi reading/membaca naskah, sutradara harus menyampaikan pandangannya tentang masing-masing karakter. Sediakan informasi sebanyak-banyaknya kepada para pemeran agar mereka mengerti keinginanmu sebagai sutradara.

Unduh ‘Analisis Karakter’

 

Shot List

Sutradara harus bisa menerjemahkan kata-kata menjadi gambar dan suara. Oleh karena itu, kepiawaian sutradara dalam mengolah shot amatlah krusial. Ia harus memahami betul gambar-gambar apa saja yang ia butuhkan untuk kebutuhan cerita. Ia juga lah yang bertanggung jawab untuk memastikan gambar cukup kuat untuk bercerita dan tak ada yang kurang untuk diolah di meja editing.

Mempersiapkan shot amatlah penting. Di lokasi kepalamu akan dipenuhi oleh berbagai pertanyaan dari kru dan pemeran. Belum lagi urusan-urusan teknis lain yang juga mesti kamu perhatikan. Maka, mempersiapkan kebutuhan shot dengan kepala dingin sangatlah penting. Duduklah yang manis dan pikirkan baik-baik shot-shot apa saja yang kamu butuhkan. Tulis dengan detail: jenis shot, angle, dan adegannya. Di lapangan kamu boleh berimprovisasi, tetapi mempersiapkan diri tak kalah penting.

Unduh ‘Tabel Shot List’

 

Floor Plan /Storyboard

Ini sebetulnya tentatif. Kamu bisa mempersiapkannya, namun tidak harus. Tetapi percayalah, semakin detail persiapanmu, maka semakin mudah pekerjaanmu di lokasi syuting. Oleh karena itu, jika waktu persiapanmu panjang, kamu bisa mempersiapkan floor plan dan/atau storyboard.

Floorplan adalah gambar denah rencana peletakan kamera di lapangan. Setelah membuat shot list, kamu bisa menggambar denah set lengkap dengan letak kamera dan jenis shot dan angle yang akan kamu gunakan. Gambarkan pula denah bloking/pergerakan pemeran serta gerakan kamera. Floorplan akan memudahkan komunikasimu dengan penata kamera di lapangan. Biasanya, floor plan dibuat bersama-sama sutradara dan penata kamera pada masa persiapan.

Storyboard adalah gambar strip adegan demi adegan menyerupai komik. Gambar komik pada storyboard sudah dibuat mengikuti jenis shot dan angle yang sudah kamu buat di shot list. Storyboard juga akan memudahkanmu berkomunikasi dengan kru yang lain karena mereka akan langsung memahami letak kamera, lensa, lampu, dan props apa yang harus disiapkan.

Unduh Contoh ‘Floor Plan’

 

Inilah lima dokumen yang harus disiapkan oleh sutradara sebelum syuting dimulai. Apabila kamu ada pertanyaan atau komentar, silahkan tulis di kolom komentar. Kami dengan senang hati membantu proses kreatifmu!

This post was published on June 11, 2017 4:10 pm

Published by

Recent Posts

Merayakan Sinema Tanah Air: 8 Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa

Di setiap perayaan Hari Film Nasional, ada baiknya kita mengingat kembali karya-karya sinema Indonesia yang…

March 29, 2024

Menguak Rahasia Low Light Cinematography: Tips dan Trik untuk Sineas

Dalam dunia sinematografi, memfilmkan dengan cahaya rendah bukan hanya sebuah kebutuhan tetapi sering kali merupakan…

March 27, 2024

8 Situs Terbaik untuk Musik dan Sound Effect Gratis

Dalam dunia kreatif, musik dan efek suara memegang peranan penting dalam memberikan nuansa dan atmosfer…

March 26, 2024

Mengenal Berbagai Jenis Festival Film dan Keunikan Masing-Masing

Dalam dunia perfilman, festival film adalah salah satu momen yang paling dinantikan oleh para sineas,…

March 25, 2024

Proses Brainstorming Series CinLock: Transformasi Ide Menjadi Skenario

Dalam dunia yang penuh dengan tayangan menarik dan beragam, terkadang kita penasaran, bagaimana sih proses…

March 22, 2024

Apakah Kamu Dilahirkan Untuk Menjadi Penulis? Ini 8 Tandanya!

Menulis bukan hanya kegiatan menggoreskan pena di atas kertas atau mengetik di depan layar komputer.…

March 21, 2024