Jason Iskandar: Excitement with Space

Text written by Kevin Ryan. ‘Jason Iskandar: Excitement on Space’ originally published by Slate_ID on Qubicle.

Jason Iskandar merupakan salah satu sutradara muda Indonesia yang patut diperhitungkan. Film terbarunya, Langit Masih Gemuruh, berhasil masuk ke kompetisi film pendek 26th Singapore International Film Festival 2015. Tidak hanya sebagai sutradara, Jason juga mengembangkan sayapnya dengan membuka production house bernama Studio Antelope bersama rekannya pada 2011.

Dalam beberapa karyanya, Jason kerap menghadirkan sisi ruang atau space dengan nyata dalam sebuah adegan, seperti pada film Seserahan. “Gue tertarik sama space, mungkin karena setiap gue masuk ke satu ruang selalu coba mapping ruangan itu. Misalnya, di bagian sini ada situasi apa, kemudian di bagian sana ada kejadian apa? Menarik saja,” ungkap Jason.

Tentang space ini, Jason kemudian memberikan contoh karya lainnya yang berjudul Parkir. Film ini berasal dari kenangan masa kecilnya di mana ia selalu suka dengan tempat parkir di sebuah mall dan menemukan hal-hal menarik dibandingkan di dalam mall itu sendiri.

Jason-Iskandar-Excitement-On-Space

Selain terobesesi dengan ruang, Jason mengatakan dirinya mulai tertarik dengan dunia film sejak menonton film Jurrasic Park. “Waktu itu nonton Jurrasic Park di bioskop, terus bokap gue kasih VHS (player) jadi bisa nonton berkali-kali. Suatu hari, gue nonton di tayangan TV ada yang ngebahas soal behind the scene Jurrasic Park. Gue lihat Steven Spielberg nge-direct. Waktu itu kalau nggak salah ada boneka dinosaurus, intinya buat blocking, tapi gue lihatnya seperti sihir. Semenjak itu gue selalu tertarik untuk melihat proses di balik pembuatan film” ungkap Jason.

Jason pun memutuskan untuk masuk dalam dunia seni. Ia memulai dari membuat desain foto lewat aplikasi Photoshop, belajar fotografi, dan akhirnya di bangku SMA mencoba membuat film. Sayangnya, film pertama yang ia buat tidak rampung hingga akhirnya mengikuti workshop Think, Act, Change bersama Dewan Kesenian Jakarta. “Awalnya gue daftar workshop film karena gue sempet nggak naik kelas, terus gue mau kasih lihat kalau gue punya skill. Eh, keterusan untuk buat film habis ikut workshop-workshop,” tambah Jason.

Hal yang mengejutkan dalam membuat film menurut pemenang Best Short Film-JAFF 2010 ini adalah durasi pembuatannya. “Tahun 2007, gue memproduksi sebuah film. Gue kira film 1,5 jam, ya, waktu syutingnya 1,5 jam. Ketika itu gue syuting film dokumenter yang ternyata menghabiskan waktu 2 minggu. Sewaktu mengikuti workshop, kita ditanamkan harus memiliki riset yang dalam tentang topic yang mau dibicarakan. Itu yang bikin gue kaget, ternyata bikin film nggak semudah yang dibayangkan,” papar Jason.

Memakan waktu, energi, dan biaya adalah tiga poin yang menurut Jason dapat disimpulkan dalam pembuatan sebuah film. Ia menambahkan, apabila dapat mengubah industri film di Indonesia, ia berharap senioritas dalam sebuah produksi dapat dihilangkan dan gap antara satu kelompok pembuat film dengan kelompok lain juga dapat dihilangkan sehingga sesama pembuat film dapat berbaur lebih luas lagi.

Comments