Malang Film Festival 2016: Focus on Jason Iskandar

Original article written by Panji Mukadis from Info Screening with original title: “Catatan Mengikuti Program Focus on Jason Iskandar dalam Malang Film Festival 2016”.

8 April 2016. Hari kedua Malang Film Festival (Mafi Fest) 2016, dalam sesi ke-empat diselenggarakan program Focus on Jason Iskandar dengan memutar empat film-film Jason Iskandar antara lain Indonesia Bukan Negara Islam (2009), “Territorial Pissing” (2010), “Seserahan” (2013) dan “Langit Masih Gemuruh” (2015). Dalam pernyataannya, juru program Mafi Fest 2016, Yuli Lestari, program ini diadakan melihat konsistensi Jason membuat film, sekaligus mempertimbangkan karya-karyanya yang semakin mendapat perhatian luas.

Program ini disambut dengan antusias, hal ini terlihat dengan ramainya pengunjung yang hadir mengikuti sesi yang diskusinya dimoderatori oleh Jonathan Manullang.

Content-Malang-Film-FestivalPenanya pertama dari Singosari menanyakan tentang maksud dari film kedua, ketiga, dan keempat yang diputar yaitu “Territorial Pissing”, “Seserahan” dan “Langit Masih Gemuruh”.

Menjawab mengenai “Territorial Pissing”, Jason menjelaskan bahwa ide “Territorial Pissing” antara lain yaitu kesulitannya dalam belajar mengendarai mobil. Di sini ia coba mengangkat bagaimana pria terasa aneh bila disetiri wanita, dan bagaimana wanita terlihat rendah saat merokok –padahal pria bisa dilihat biasa saja.

Mengenai “Seserahan” yang merupakan proyek mengerjakan film teman (bertukar naskah antara pembuat film), Jason mengaku awalnya merasa kesulitan mengingat latar belakangnya yang bukan dari dan tidak tinggal di Jawa. Dari sana Jason coba menumpahkan pandangannya tentang pernikahan yang sejatinya menurutnya antara dua orang saja: mempelai laki dan perempuan.

Menjelaskan tentang “Langit Masih Gemuruh”, Jason menjelaskan bahwa film ini berasal dari ingatannya dan cerita teman-temannya akan peristiwa 1998. Berbeda dengan film-film yang mengangkat tentang peristiwa tersebut, Jason yang saat ‘98 masih 7 tahun merasa akan sangat menarik bila cerita mengenai kerusuhan itu dibuat dari kacamata anak-anak yang pada peristiwa tersebut belum mengerti banyak hal, termasuk soal politik.

Aldino dari Universitas Airlangga Surabaya memberi tiga pertanyaan, salah satunya tentang treatment dari film “Indonesia Bukan Negara Islam” termasuk narasi yang menyertainya. Menjawab hal ini, Jason menceritakan bahwa ia awalnya diminta meliput acara di Monas tahun 2009 yang mana tiba-tiba (acara tersebut) diserang oleh FPI. Lama menyimpan file foto-fotonya, Jason merasa foto-foto tersebut bisa dijadikan cerita. Mengenai narasi, Jason mengaku penasaran dengan teman sekolahnya yang muslim (dan bersekolah di sekolah Katolik) dan bagaimana mereka melihat FPI dan dalam film tersebut juga mengomentari tentang arah negara.

Menjawab pertanyaan lain dari Aldino mengenai perubahan nama studio antara film-film awal dengan film-film terakhir, Jason menceritakan bahwa ia sempat ingin jadi anak band, sehingga nama rumah produksi yang ia bentuk bersama teman-temannya dinamakan Gambar Darurat. Namun kemudian, akhirnya berubah menjadi Antelope Film yang lebih menjual.

Pertanyaan terakhir dari Aldino yaitu soal apa yang dirasa setelah berproses dan diputarnya film-film Jason Iskandar pada khalayak. Menjawab hal tersebut Jason mengaku senang berproses dan berkembang. Jason menyebut bahwa ia sendiri belum tahu apa yang menjadi ciri khasnya dan hanya tahu melalui teman-temannya. Setelah semua proses tersebut menurut Jason, ia akan terus bercerita, baik sebagai pembuat film atau tidak.

Menjawab pertanyaan pengunjung MAFI Fest dari Jakarta yang juga bernama Jason tentang bagaimana film-film Jason Iskandar bisa memiliki nilai estetika yang tinggi, Jason sendiri mengaku tidak terlalu memikirkan soal estetik, namun ia lebih ingin bereksplorasi dan mencari pendekatan yang cocok. Termasuk soal treatment dan kenapa harus diperlakukan seperti itu.

Adrian Jonathan sebagai sesama juri tidak ketinggalan memberikan pertanyaan. Adrian yang mengaku mengikuti perkembangan Jason Iskandar dari SMA bertanya mengenai dampak setelah Jason memilih untuk belajar sosiologi di universitas –melenceng dari yang awalnya ingin sekolah film; bagaimana ia berkembang setelah pilihannya.

Menjawab pertanyaan Adrian tersebut, Jason menceritakan bahwa menjelang kelulusannya dari sekolah, sedang terjadi transisi digital yang mana membuat film kemudian relatif lebih mudah dipelajari sendiri. Mempertimbangkan bagaimana pengetahuan dasar diperlukan dalam membuat film, di situ ia memutuskan belajar sosiologi. Sosiologi sendiri mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi sedangkan film mengungkapkan hal-hal yang tersembunyi.

Comments