5 Tips Memberi Saran Rekan Setim Produksi Film

Teknis hanyalah bagian kecil dari rangkaian besar proses produksi film. Di samping hal-hal teknis, adapula faktor non-teknis yang sering disepelekan, tetapi berdampak besar pada proses pembuatan film. Salah satunya adalah memberikan dan mendengarkan saran untuk rekan setim produksi film.

Sebagai perusahaan kreatif, kami sering berhadapan dengan situasi dimana kami harus saling memberi saran dan masukan. Ketika proses pengembangan ide kreatif, kami harus saling memberikan saran agar ide terus berkembang. Saat produksi, setiap hari kami mengevaluasi untuk menyelesaikan masalah. Ketika pasca produksi, kamipun saling memberi masukan agar potongan gambar dapat bercerita dengan tepat guna.

Oleh karena itu, memberikan saran dan masukan merupakan perhatian khusus di Studio Antelope. Melalui artikel ini, kami hendak berbagi tips dalam memberi saran untuk rekan setim produksi film agar tidak menyinggung rekan kerja dan mampu mendorong kreatifitas ke arah yang positif.

1. Siapkan Sesi Khusus

Proses pemberian saran atau masukan sebaiknya dilakukan secara khusus. Hindarilah situasi dimana kamu menghampiri seseorang, lalu langsung memberikan saran atau masukan padanya. Situasi seperti ini dapat membuat orang itu bersikap defensif, menolak semua masukanmu, dan lebih parah lagi membencimu.

Siapkanlah sesi khusus memberi saran. Jika kamu produser atau sutradara atau pemimpin dari sebuah tim, maka kamu bisa mengatur jadwal timmu untuk memberi saran dan masukan. Jika kamu bukan pemegang keputusan untuk membuat sesi seperti ini, kamu bisa mengajak tim kamu termasuk atasan kamu untuk membuat sesi ini.

Sesi sebaiknya dilakukan secara tertutup. Cukup undang rekan setim yang memang punya tanggung jawab terhadap project tersebut, atau orang lain yang punya kapabilitas memberikan masukan. Dengan melakukan sesi khusus dan tertutup, maka setiap orang sudah menyalakan ‘mode’ untuk memberi dan mendengar masukan. Dengan begitu, tak ada satupun rekan yang bersikap defensif.

2. Fokus Pada Perbaikan

Saya senang menggunakan analogi permainan Lego. Ibaratnya begini, sepupumu datang membawa rumah-rumahan yang terbuat dari Lego. Ia lalu menceritakan visi-visinya terhadap rumah itu, kenapa gentengnya berwarna merah, kenapa pintunya ada dua, kenapa jendelanya hanya satu dan ukurannya besar, dan seterusnya. Menarik, menurutmu, tetapi kamu punya pendapat lain.

Lalu kamu mengambil rumah itu, membongkar gentengnya, lalu kamu kebingungan harus melakukan apa. Kamu bongkar pula pintunya, tetapi kamu juga tidak dapat memberikan solusi. Menurutmu, apa yang akan terjadi pada sepupumu? Dua kemungkinan, marah atau menangis.

Begitupula dalam memberi saran untuk rekan setim. Jika fokusmu adalah menghancurkan dan bukan memperbaiki, maka ada dua kemungkinan yang akan terjadi pada rekanmu: marah atau menangis. Tentu kamu tak ingin seperti itu bukan?! Oleh karena itu, fokuslah pada perbaikan. Hancurkan yang sudah ada hanya jika kamu tahu bagaimana memperbaikinya.

3. Bedakan Orang dan Masalah

Ketika kita memberi saran untuk rekan setim, kita harus sadar bahwa kita sedang membongkar masalah dan mencari solusi, bukan memojokan seseorang. Seseorang mungkin saja membuat blunder bodoh dan merugikan tim, tetapi jika kamu fokus pada kesalahan orang itu terus menerus, solusi tidak akan ditemukan. Jika solusi tidak ditemukan, masalah tidak akan selesai. Jika masalah tidak selesai, masalah yang sama mungkin akan muncul di lain waktu.

4. Tetap Positif

Cara bicara dan sikap seseorang mempengaruhi pesan apa yang ditangkap oleh orang lain. Oleh karena itu, memastikan diri tetap positif dan menjaga sikap dengan baik, akan membuat sesi pemberian saran berjalan lebih lancar. Dalam memberikan saran untuk rekan setim, kita harus percaya bahwa semua orang dalam tim sedang berupaya untuk memberikan yang terbaik. Cara ini akan membantu kita untuk fokus pada masalah dan terhindar dari prasangka-prasangka negatif.

5. Berempati

Tentu berbeda rasanya memberikan saran untuk project sendiri dengan project orang lain. Apabila sedang mengerjakan project sendiri, kita cenderung untuk memberikan yang terbaik. Berbeda dengan saat memberi saran untuk project orang lain, kita cenderung kehilangan rasa memiliki dari project tersebut. Akibatnya, saran yang kita lontarkan cenderung tanpa empati.

Empati tak kalah penting dengan empat poin sebelumnya. Ketika kita sedang memberikan saran untuk orang lain, sebaiknya kita menciptakan rasa memiiki dan empati dari project yang sedang dibahas. Dengan empati, kita dapat memberi masukan dengan jernih dan keinginan tulus untuk memberikan yang terbaik pada project tersebut.

No Comments

Leave a Reply