Kemasan Baru Hijab Love Story Season 3

Hi! Ketemu lagi di blog kami. Kali ini, kami mau melanjutkan cerita di balik layar Hijab Love Story Season 3. Kali ini kami mau ngebahas kemasan baru yang kami terapkan untuk Hijab Love Story 3. Kenapa kami tertarik untuk ngeshare cerita-cerita ini? Ya semata-mata karena kami keseruan-keseruan ini penting buat dibagikan dan mungkin bisa jadi bahan pembelajaran buat teman-teman yang juga lagi bikin web series. Terimakasih lho ya sudah mau ngikutin cerita-cerita ini.

Jadi intinya, Hijab Love Story Season 3 ini akan berbeda dengan dua season sebelumnya. Berbeda bukan hanya dari segi cerita dan konflik, tetapi juga kemasan visual di dalamnya, mulai dari lokasi, artistik, hingga makeup dan wardrobe. Nah di postingan kali ini, kami ingin menceritakan sedikit apa sih yang berbeda dengan season sebelumnya dan gimana sih proses kreatifnya.

Set dan Lokasi

Bagian ini cukup tricky, karena dari segi cerita, HLS2 punya kemiripan dengan HLS3. Jika sebelumnya latarnya adalah cafe, maka di season baru ini akan berlatar di toko kue jadul warisan keluarga. Nah disini letak perbedaannya: jadul warisan keluarga. Oleh karena itu, secara visual kita tidak lagi ingin menyajikan kemasan modern minimalis, tetapi lebih menggarisbawahi kesan vintage, lengkap dengan unsur heritage-nya.

Tema besar season baru ini memang Sahabat Hati. Akan tetapi, konflik yang dihadapi oleh Ajeng bisa dibilang lebih kompleks dari persahabatan semata. Hijab Love Story 3 menceritakan perjuangan Ajeng menghadapi pertentangan antara ambisi pribadi, keluarga, dan sahabat. Ketiga konflik ini begitu dirasakan oleh Ajeng sehari-hari. Oleh karena itu, kita pun perlu mencari lokasi yang bisa memotret unsur-unsur yang telah disebutkan.

Lokasi syuting Hijab Love Story 3 di Pantjoran Tea House.Luthfi Aulia Chandra kembali memerankan Dru di Hijab Love Story 3.Toko Kue Soemodi Prodjo di Hijab Love Story 3.

Beruntung, rekomendasi seorang teman membawa kami ke sebuah restoran antik di kawasan Pancoran, Glodok, Jakarta Barat. Restoran ini bernama Pantjoran Tea House. Menyajikan teh dan makanan Cina, kami sadar betul bahwa set ini perlu sedikit perubahan untuk bisa mewakili unsur-unsur tadi. Akan tetapi, aura dan nuansa tempat ini sungguh mampu mewakili kesan vintage dan unsur heritage-nya. Pilihan kami pun jatuh pada restoran ini. Kalau penasaran, silahkan lihat beberapa foto lokasi di bawah ini:

Omong-omong, melalui postingan ini, kami juga ingin sekalian mengucapkan terimakasih yang sebesar-besarnya buat Pak Ronald dan pengelola Pantjoran Tea House yang sudah berbaik hati memperbolehkan kami syuting di sana. Pantjoran Tea House juga menyajikan asupan-asupan makanan enak buat para cast & crew. Bukan bermaksud promosi, tapi makanan di restoran ini beneran enak, silahkan dibuktikan sendiri kalau gak percaya.

Artistik

Seperti season sebelumnya, kami bekerjasama lagi dengan penata artistik Andromedha Pradana. Setelah melalui berbagai diskusi dengan Jason Iskandar, sang sutradara, maka disepakatilah beberapa keyword yang dirasa tepat, antara lain: heritage, Javanese, bohemian, dan cross culture. Betul, kami rasa sih bakal asik untuk menggabung-gabungkan elemen berbagai budaya, karena kan memang begitulah isu yang dibahas kan.

Untuk lokasi Toko Kue Soemodi Prodjo, keempat keyword tersebut sungguh kami jaga. Susah-susah gampang memang. Gampang karena sebetulnya elemen dasar restoran ini sudah cukup kuat, tinggal menambahkan beberapa elemen lain agar semakin kuat. Sudah bergaya oriental, kami pun jadi lebih mudah untuk bermain-main dengan elemen cross culture-nya. Kami menambahkan beberapa elemen Jawa untuk menambah kesan toko peninggalan keluarga. Silahkan lihat beberapa foto set di bawah ini:

Nah, set rumah kami bagi menjadi dua: luar kamar Ajeng dan kamar Ajeng. Untuk bagian luar kamar Ajeng, kami menegaskan elemen Jawa di desain interiornya, mulai dari hiasan dinding, meja, kursi, rak, hingga televisi lawas. Kami ingin agar ruang tersebut terasa betul aura Jawanya. Ini tentu berbeda dengan suasana kamar Ajeng yang merupakan ruang pribadinya. Jika di luar, kesan Jawa lebih ditonjolkan, maka di dalam kesan bohemian lah yang ingin di highlight. Sebagai gadis masa kini yang paham Pinterest, kami rasa Ajeng punya pilihan dan seleranya sendiri.

Makeup & Wardrobe

Sama seperti season sebelumnya, season ini kami kembali bekerjasama dengan penata busana Elvira Sundari dan penata rias Christy Pramarsita. Walaupun demikian, secara garis besar, desain makeup dan wardrobe HLS3 juga berbeda dengan HLS2. Jika HLS2 banyak bermain-main dengan warna-warna kontras yang lebih mencolok, kali ini di HLS3 kami banyak bermain dengan warna earthy. Warna-warna yang kami pilih untuk HLS3 bukanlah warna-warna mencolok, melainkan warna-warna yang lebih netral. Tentu ini bukan tanpa pertimbangan, karena kami tidak hanya ingin menyesuaikan dengan unsur-unsur yang sudah kami ceritakan di atas, tetapi juga mengejar kesan-kesan yang ingin dicapai.

Ineke Valentina, Febiola Novita Kaunis, dan Agnes Oryza di Hijab Love Story 3

Febiola Novita Kaunis memerankan Ajeng di Hijab Love Story 3. Make up oleh Christy Pramarsita, Wardrobe oleh Elvira Sundari.

Makeup dan wardrobe tentu mewakili karakter masing-masing. Ketiga karakter utama punya preferensinya masing-masing. Ajeng yang ambisius dan tegas menyukai warna-warna yang lebih tegas dibandingkan kedua temannya. Ia menyukai warna-warna merah marun, deep forest green, atau rustic red. Berhubung Ajeng ini mantan karyawan swasta di perusahaan akuntan publik, Ajeng cukup picky dalam memilih pakaian, ia selalu ingin tampil prima dan terlihat rapi di setiap momen. Untuk makeup, Ajeng jugalah yang tampilannya paling bold, dengan warna lipstik yang lebih berwarna, serta riasan lain yang yang juga lebih warna-warni.

Nah lanjut ke karakter Siena. Dia ini yang paling quirky dibandingkan kedua temannya. Gaya pakaiannya boleh dibilang paling unik dan berani. Ia kerap menggunakan sepatu boot, jaket bermotif, luaran asimetris, sampai ikat kepala. Ia menyukai warna-warna gelap seperti hitam, biru donker, sampai ungu tua. Untuk urusan makeup, Siena jugalah yang paling khas. Ia kerap menggunakan lipstik berwarna gerap, atau merah merona.

Agnes Oryza memerankan Arnes di Hijab Love Story 3. Make up oleh Christy Pramarsita, wardrobe oleh Elvira Sundari.

Sementara itu, untuk karakter Arnes lebih soft dibandingkan kedua temannya. Jika kedua karakter temannya cukup kuat dengan warna masing-masing, maka Arnes yang kerap menjadi penengah kedua temannya, menyukai warna-warna pastel. Kita bisa melihatnya dari warna-warna pakaiannya yang bernuansa lebih lembut, dengan warna warna seperti putih, biru laut, atau pink. Makeupnya pun tidak setegas kedua temannya. Seperti karakternya yang lembut, ia menyukai sentuhan-sentuhan warna yang lebih kalem.

Oh ya, jangan khawatir dengan style hijab Ajeng, sudah pasti kami akan menamilkan style-style hijab terkini dengan warna-warna yang tidak kalah menarik. Kami akan membuatkan satu postingan khusus yang menampilkan foto-foto style hijab di HLS3 buat referensi gaya kalian. Makanya jangan lupa ikuti terus blog dan instagram kami supaya kamu gak ketinggalan postingannya, hehehe.

Media Sosial

Bikin dan Berbagi

Administrator
Studio Antelope adalah rumah untuk filmmaker dan storyteller. Tempat untuk bikin karya dan berbagi inspirasi lewat film dan konten. Misi kami adalah memproduksi karya berkualitas untuk semua layar, dari layar lebar sampai gadget.
Bikin dan Berbagi
Media Sosial
Baca Juga:  Klarifikasi Jason Iskandar Soal Studio Antelope

Artikel Terkait:

No Comments

Tulis Komentar:

shares