7 Film Nasional Bertema Olahraga

Indonesia memiliki sumber daya manusia yang sangat besar jumlahnya, terutama pada bidang olahraga. Semua atlet di tiap cabang olahraga pada berbagai daerah tentunya memiliki ceritanya masing-masing, sehingga tidak jarang jika daerah asal atlet juga berpengaruh besar terhadap perjalanannya di dunia olahraga. Mulai dari perjuangan pribadi, konflik di daerah asal, hingga kondisi politik yang tidak mendukung dapat terjadi pada kisah hidup seorang atlet. Cerita-cerita tersebut bisa menjadi motivasi untuk kita semua agar tidak cepat menyerah pada kondisi yang dialami ketika memperjuangkan sesuatu. Berikut adalah film-film bertema olahraga Indonesia yang bisa memotivasi kamu untuk terus berjuang dalam meraih mimpimu.

King

Bagi kamu yang familiar dengan perjuangan Liem Swie King dalam ajang perlombaan bulutangkis dunia, mungkin film King akan menarik perhatianmu. Walaupun film ini bukan sebuah film biopik yang menceritakan tentang kisah hidup Liem Swie King, semangatnya dalam mengharumkan nama Indonesia tertanam dalam seorang pengumpul bulu angsa dan anaknya, Guntur. Ayah Guntur menurunkan kecintaannya pada cabang olahraga bulutangkis dan selalu menceritakan hebatnya Liem Swie King di arena bulutangkis kepada Guntur. Oleh karenanya, Guntur memiliki tekad yang kuat untuk meraih cita-cita yang tidak dapat diraih oleh ayahnya ketika masih muda, yaitu menjadi atlet bulu tangkis terbaik di Indonesia.

3 Srikandi

Kemenangan seorang atlet sudah pasti disertai kerja keras yang menguras tenaga dan emosi. Hal tersebut dirasakan pula oleh tiga atlet Indonesia yang memenangkan medali olimpiade untuk pertama kalinya bagi Indonesia. Film 3 Srikandi adalah film biopik yang menceritakan tentang perjuangan Nurfitriyana, Lilies, dan Kusuma dalam berlatih untuk menjadi atlet pemanah di ajang Olimpiade Musim Panas 1988 di Seoul. Selain mendapati konflik dengan sang pelatih, Donald Pandiangan, ketiganya pun memiliki konflik batin yang diakibatkan dari latar belakang keluarga di daerahnya masing-masing. Tidak hanya itu, 3 Srikandi juga berlatih di bawah kondisi politik yang mengancam rencana keberangkatan mereka untuk bertanding di Seoul.

Baca Juga:  4 Aplikasi Pengatur Feed Dan Jadwal Posting Instagram

Cahaya dari Timur: Beta Maluku

Film Cahaya dari Timur: Beta Maluku terinspirasi dari kerusuhan yang dimulai pada tahun 1999 di Maluku. Kerusuhan tersebut membuat anak-anak yang berpotensi sebagai atlet sepak bola larut dalam perang saudara. Setelah melihat kondisi yang mengkhawatirkan, seorang pemuda bernama Sani Tawainella (diperankan oleh Chicco Jericho) berusaha untuk menginisiasi sebuah klub sepak bola agar generasi penerus dalam dunia sepak bola di Maluku tidak hilang begitu saja. Sayangnya keputusan untuk mempersatukan anak Maluku dalam klub sepak bola tidak semudah yang dibayangkan, terutama ketika masing-masing masih memiliki dendam terhadap anggota lain.

Film olahraga ini telah meraih penghargaan film terbaik di Piala Maya dan Festival Film Indonesia pada tahun 2004 ini sudah bisa kamu akses di Netflix, lho. Selain Cahaya dari Timur: Beta Maluku, ada beberapa film Indonesia lain yang bisa kamu tonton di Netflix.

Sang Pemberani

Sang Pemberani menceritakan tentang kehidupan seorang karateka muda bernama Madi yang harus berjuang pasca bencana tsunami di Aceh. Keluarga Madi memiliki bakat dalam mendalami karate, terutama Ayah dan kakaknya yang telah menjadi atlet. Namun bencana tsunami merenggut nyawa keduanya sehingga hanya tersisa Madi dan Ibunya. Walaupun Madi memiliki bakat yang luar biasa, bencana yang dialami keluarganya sempat membuat Madi terpukul dan terkalahkan dalam seleksi karate daerah.
Dua orang pelatih karate melihat potensi yang ada pada Madi, sehingga mereka memutuskan untuk melatihnya dengan cara mereka sendiri. Melalui film ini, kita bisa belajar bahwa meraih sebuah impian tidak hanya memerlukan keterampilan, tetapi juga tekad, keberanian, dan kondisi mental yang kuat.

Garuda di Dadaku

Bayu adalah siswa kelas 6 SD yang memiliki mimpi untuk menjadi pemain sepak bola. Keahliannya dalam bermain sepak bola pun sudah diakui oleh teman-teman sebayanya sehingga ia semakin bersemangat untuk berlatih dimanapun ia berada. Namun, kakeknya melarang Bayu untuk menekuni keahlian tersebut dengan dalih bahwa mengejar mimpi sebagai atlet tidak akan memiliki masa depan yang cerah. Walaupun begitu, Bayu terus mengejar kesempatan yang ia peroleh untuk bisa bertanding di Tim Nasional meski tiap hambatan terus menghalangi jalannya. Selain menceritakan tentang perjuangan untuk menjadi seorang atlet, Garuda di Dadaku juga kental akan kisah persahabatannya. Oleh karena itu, film ini sangat cocok ditonton bareng adik atau keponakan kalian.

Baca Juga:  5 Film Pendek Romantis Yang Bikin Baper

Tendangan dari Langit

Wahyu adalah seorang anak laki-laki yang tinggal di lereng Gunung Bromo dengan kondisi finansial yang serba kekurangan karena ayahnya bekerja sebagai penjual minuman hangat, sedangkan ibunya bekerja sebagai ibu rumah tangga. Ia memiliki keahlian yang luar biasa dalam bermain sepak bola, bahkan ia sering menjadi pemain sewaan untuk tim sepak bola di beberapa desa. Hal ini membawanya pada kesempatan untuk berlatih di tim Persatuan Sepak Bola Indonesia Malang (Persema). Sayangnya, kesempatan tersebut tidak berjalan dengan mulus ketika ia mendapati bahwa kondisi kesehatan kaki Wahyu tidak mendukungnya untuk berkarir di dunia sepak bola dalam jangka waktu yang panjang.

Film olahraga sepak bola ini disutradarai oleh Hanung Bramantyo ini mendapatkan perhatian dari khalayak pada tahun 2011 lalu karena mengajak seorang atlet ternama, Irfan Bachdim dan Kim Kurniawan, sebagai pemain film. Tidak hanya itu, film ini juga dibintangi oleh seniman senior Sudjiwo Tejo sebagai Kakek Bayu dan jajaran aktor ternama lainnya, seperti Maudy Ayunda, Joshua Suherman, Jordie Onsu, dan lain-lain.

Yosua Imantaka

Content Writer
Seorang mahasiswa jurusan ilmu komunikasi di Universitas Sebelas Maret yang sedang menekuni penulisan kritik film. Kerap ditemukan menangis setelah menonton film coming-of-age.

Latest posts by Yosua Imantaka (see all)

No Comments

Tulis Komentar: