4 Kesalahpahaman Festival Film di Indonesia yang Sering Ditemui

Mengikuti ajang festival film adalah salah satu bentuk capaian bagi pencipta film. Apalagi kalau film turut dikompetisikan dalam festival bergengsi, tentu menjadi goresan prestasi. Namun, tidak sedikit pula ada para pembuat film yang tidak cukup percaya diri untuk mendaftarkan filmnya ke sebuah festival. Alasannya? Kebanyakan karena menganggap jika festival film hanya berlaku bagi film-film yang ‘art house’. Benarkah begitu? Berikut adalah 4 kesalahpahaman festival film!

Kesalahpahaman Festival Film hanya untuk film art house ini perlu diluruskan!

1. Festival Film Hanya Memutarkan Film Art House

Sebelum membahas festival filmnya, memang apa arti film art house sih? Film art house adalah film yang lebih mengutamakan nilai estetika dibandingkan dengan kebutuhan komersil. Biasanya dibuat oleh filmmaker independent dengan bergaya eksperimental untuk untuk dipasarkan ke segment penonton tertentu. Pandangan tersebut ternyata cukup membuat para pembuat film indie berusaha bikin film yang bergaya art house itu alih-alih agar bisa masuk ke festival film. Mengingat bahwa penonton film indie di festival film Indonesia masih tergolong tidak terlalu banyak (cobalah datang ke 3 festival film bergengsi di Indonesia, kelak akan menemukan pengunjung yang sama di ketiga festival itu), maka pembuat film menganggap jika selera penonton film indie dan festival film adalah film yang bergaya art house.

Padahal, tidak semua festival film dapat mewadahi film dengan gaya art house. Idealnya, tiap festival film memiliki tujuan dan tema yang akan dibicarakan melalui film dan festival. Sehingga, tidak selalu nilai estetika dan eksperimental menjadi bahasan utama. Ambillah contoh Anti Corruption Film Festival (ACFFEST) yang diselenggarakan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi. ACFFEST bertujuan untuk menanamkan nilai perilaku anti-korupsi dan mendorong masyarakat untuk berpartisipasi memberantas korupsi. Tujuan tersebut disampaikan melalui medium audio visual, seperti film. Berdasarkan tujuan dan target penonton ACFFEST yang bersifat edukatif tersebut apakah festival film ini akan mengutamakan film bergaya art house?

Baca Juga:  Tips Memanfaatkan SEO Untuk Film Pendekmu

2. Festival Film Hanya Untuk Komunitas Film

Memang betul jika festival film di Indonesia banyak yang berpusat pada komunitas film. Dimulai dari penyelenggara hingga program khusus untuk komunitas film. Hal ini wajar dan tentu baik mengingat festival-festival film di berbagai kota di Indonesia lahir dari komunitas. Komunitas-komunitas ini justru yang membuat ekosistem film di Indonesia khususnya film pendek, menjadi seimbang dengan memproduksi film dan memutarkan film.

Tapi, tenang saja festival film untuk semua kok! Untuk semua yang menyukai film, baik memproduksi maupun menonton.
Karena tentu saja, festival film adalah upaya untuk memperkenalkan film Indonesia yang tidak bisa ditayangkan di biokop komersil bisa bertemu dengan penontonnya. Sehingga, jika kamu adalah pembuat film tetapi bukan berasal dari komunitas film manapun, jangan khawatir! Banyak kok filmmaker yang bukan dari komunitas film, tapi filmnya diputar di festival dan menang. Tetap berani untuk submit film yaa. Nah, kesalahpahaman festival film ini perlu diluruskan demi meningkatkan jumlah penonton di festival film. Karena, rasanya masih ada teman-teman yang bukan dari komunitas film dan ‘segan’ untuk menonton film di festival. Berasumsi filmnya tidak akan mudah dipahami atau alasan yang juga paling sering ditemukan adalah: “takut ga kenal siapa-siapa di sana”. Lalu, apa bedanya dengan menonton film di bioskop komersil yang tidak mengenal penonton di kursi sebelah, bukan?

3. Festival Film Hanya Untuk Film Pendek

Biasanya, teman-teman yang lebih sering menonton di bioskop komersil dan jarang menonton film pendek, cenderung tidak menyukai film pendek. Durasinya yang singkat dan dengan ciri khasnya yang penuh kejutan terkadang membuat penonton dengan tipe di atas merasa gemas dan bergumam “baru juga nonton, kok udah kelar?”. Kehadiran pandangan ini memang tidak keliru, mengacu pada poin nomor dua, jika festival film di Indonesia masih berpusat pada komunitas film. Nah, komunitas film inilah yang memproduksi film pendek. Kenapa gak film panjang? Jawaban singkat dan mungkin yang paling ‘relate’ dengan teman-teman komunitas adalah: budget. Tidak ada salahnya juga lho, untuk mencoba menonton film pendek. Meski berdurasi singkat, maknanya bisa dalam.

Baca Juga:  UMN Gate: Solusi Distribusi Film Kampus

Tapi, kalau memang preferensinya lebih memilih fiml panjang. Tidak perlu khawatir, banyak kok film berdurasi panjang yang diputar di berbagai festival film. Bahkan, pada beberapa kesempatan kamu bisa menonton film panjang Indonesia secara premier di festival film sebelum masuk ke bioskop, bahkan tidak disensor! Seperti film Ave Maryam yang diputar secara perdana di Jogja-NETPAC Asian Film Festival.

4. Venue Festival Film Harus di Gedung Budaya

Mungkin poin ini berada di dalam benak teman-teman komunitas film yang berencana menyelenggarakan festival film. Jika diperhatikan memang kebanyakan acara festival film diadakan di Taman Budaya, Gedung Kesenian, Kampus, dan Gedung Institut Bahasa. Pemilihan venue tersebut juga atas pertimbangan bahwa lembaga yang memiliki gedung adalah lembaga yang bergerak di bidang kebudayaan. Sehingga, memudahkan untuk mendapatkan izin pemakaian serta menawarkan kerjasama. Selain itu, venue juga harus kondusif untuk bisa dijadikan ruang pemutaran dan mampu mewadahi traffic jumlah pengunjung yang banyak.

Ternyata, venue festival film tidak melulu gedung yang ber-label budaya kok! Kalau kamu pernah mendengar Plaza Indonesia Film Festival, mereka mengadakan festival film di bioskop XXI kok. Ya, memang sih mereka adalah mall yang mengadakan festival film di gedung mereka sendiri. Jadi, tentu mereka akan mengadakan di sana. Tapi, apa salahnya mencoba bekerja sama dengan gedung bioskop untuk mengadakan festival film? Seperti yang dilakukan oleh Jogja-NETPAC Asian Film Festival, sebagian pemutarannya dilakukan di bioskop XXI. Siapa tahu, justru dengan berlokasi di bioskop itu bisa menggaet penonton yang masih malu-malu datang ke festival berlokasi di gedung kebudayaan.

Semoga kesalahpahaman festival film ini justru bisa membuat para penggiat film bisa meningkatkan baik kualitas maupun kuantitas film dan festivalnya untuk dapat dipertemukan dengan penontonnya!

Swasthi Mangundjaya

Community Manager
Kuliahnya di Surabaya menjadi awal pertemuannya dengan komunitas dan festival film. Setelah kuliahnya rampung, kembali pulang ke Jakarta dan saat ini menjabat sebagai Community Manager di Studio Antelope.
Swasthi Mangundjaya

Latest posts by Swasthi Mangundjaya (see all)

Baca Juga:  4 Festival Film Pendek Dengan Deadline di Bulan Juli 2018

Artikel Terkait:

No Comments

Tulis Komentar: