Kiprah Filmmaker Indonesia di Festival Film Cannes

Sebuah mimpi besar bagi pembuat film jika dapat menembus Cannes International Film Festival, salah satu festival film internasional ternama di dunia. Perhelatan yang digelar setiap tahunnya merupakan festival film paling dinanti kehadirannya. Penghargaan dari Cannes International Film Festival menjadi salah satu penghargaan paling bergengsi didunia perfilman. Cannes International Film Festival tahun ini akan digelar pada Selasa, 14 Mei 2019 sampai Sabtu, 25 Mei 2019. Untuk lihat informasi submisi film, pemenanga penghargaan bisa cek di official website festival cannes langsung.

Indonesia juga pernah menyumbangkan filmmaker terbaiknya pada perhelatan Festival Film Cannes lho, siapakah mereka?

Eros Djarot

Eros Djarot pernah masuk nominasi film festival cannes lho!
Lewat film Tjoet Nja’ Dhien, Eros Djarot menjadi orang pertama Indonesia yang filmnya ditayangkan di Cannes tepatnya pada tahun 1989 dalam program La Semaine de la Critique untuk kategori film panjang dan film ini meraih penghargaan sebagai Best International Film. Film yang dibintangi oleh Christine Hakim ini mengisahkan tentang perjuangan Cut Nyak Dhien bersama suaminta, Teuku Umar melawan penjajah Hindia Belanda.

Garin Nugroho

Garin Nugroho pembuat film Kucumbu Tubuh Indahku ini adalah ayahanda dari Kamila Andini
Karya Garin Nugroho, Daun di Atas Bantal diputar dalam program Un Certain Regard di Cannes International Film Festival pada tahun 1998. Menceritakan tentang kehidupan tiga anak jalanan di Yogyakarta bernama Kancil, Heru, dan Sugeng yang menjalani hidup dalam kemiskinan bersama Asih yang diperankan oleh Christine Hakim. Mereka harus mengerahkan segala cara untuk bisa bertahan hidup dan keluar dari kemiskinan untuk pendidikan yang layak.

Garin Nugroho, Tonny Trimarsanto, Lianto Suseno, dan Viva Westi


Serambi merupakan film dokumenter Indonesia tahun 2005 yang disutradarai Garin Nugroho, Tonny Trimarsanto, Lianto Suseno, dan Viva Westi serta diproduksi oleh Christine Hakim. Film ini lolos seleksi Festival Film Cannes 2006 dalam kategori Un Certain Regard. Serambi menceritakan kehidupan orang Aceh yang berusaha bangkit kembali pasca tsunami 2004. Karakter difilm ini merepresentasikan tiga generasi, yakni Tari yang berumur 12 tahun mewakili generasi anak-anak; Reza, Azhari, dan Lisa mewakili generasi muda; serta tukang becak bernama Usman mewakili generasi tua.

Baca Juga:  5 Aktor Tampan Drama Korea Yang Bikin Jatuh Hati!

Edwin

Pembuat film Posesif ini, juga pernah lolos Festival Film Cannes
Kara, Anak Sebatang Pohon Film karya Edwin ini berhasil masuk ke Director’s Fortnight pada tahun 2005. Film ini mengangkat tema tentang kesia-siaan seseorang dalam melawan kapitalisme. Bercerita tentang seorang gadis kecil bernama Kara yang hidup di tempat terpencil kemudian datang seorang wartawan ke dalam hidup Kara dan ia memutuskan untuk mencari Ronald serta menanyakan satu pertanyaan.

Lucky Kuswandi

Kegiatan Lucky Kuswandi selain membuat film adalah mengjadi dosen di UMN
Film pendek The Fox Exploits The Tiger’s Might karya sutradara muda Lucky Kuswandi diputar dalam La Semaine de la Critique untuk kategori film pendek pada Cannes International Film Festival 2015. Menceritakan tentang dua anak cowok yang sedang mengeksplorasi seksualitas mereka. David dan Aseng mengalami pergulatan antara seksualitas dan kekuasaan di lingkungan tempat tinggal mereka.

Wregas Bhanuteja

Prenjak garapan Wregas Bhanutedja bisa membawakannya ke Festival Film Cannes
Sutradara muda Wregas Bhanuteja lewat filmnya Prenjak/In the Year of Monkey berhasil menembus festival film ini pada tahun 2016 sekaligus mendapatkan penghargaan sebagai film pendek terbaik pada program La Semaine de la Critique. Prenjak bercerita tentang Diah, seorang wanita yang merasa putus asa karena membutuhkan uang. Ia pun membuat sebuah perjanjian dengan Jarwo melalui sebatang korek api seharga Rp 10 ribu.

Mouly Surya

Sutradara Marlina Si Pembunuh Empat Babak berhasil mendapatkan penghargaan di Festival Cannes
Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak karya Mouly Surya mewakili Indonesia di Cannes pada tahun 2017. Film ini akan diputar diprogram Quinzaine des realisateurs (Directors Fortnight). Film yang bercerita tentang Marlina, seorang janda asal Sumba yang suatu hari dirampok oleh sekelompok pria. Untuk melindungi dirinya, ia membunuh para perampok dan memenggal kepala pimpinan perampok tersebut.

Itulah filmmaker Indonesia yang pernah berkiprah di Cannes International Film Festival, semoga semakin banyak lagi filmmaker Indonesia yang berkiprah di Cannes bahkan festival bergengsi lainnya di dunia. Siapa tahu kamu sedang mencari festival film untuk disubmisikan filmnya? Nih, Lulu Ratna kasih tips lolos festival film.

Dicky Dwiaji Himawan

Content Writer
Dicky Dwiaji Himawan lahir di Tegal, 6 Mei 1997. Mulai tertarik dengan dunia perfilman sejak SMP dan memiliki hobi menonton film. Menempuh pendidikan program studi film di salah satu sekolah tinggi swasta di Yogyakarta.
Dicky Dwiaji Himawan

Latest posts by Dicky Dwiaji Himawan (see all)

Baca Juga:  5 Film Panjang Yang Berawal Dari Film Pendek

Artikel Terkait:

No Comments

Tulis Komentar:

shares